Kekuatan Perubahan dan Mitos Gua Plato

Ide untuk tulisan ini sebetulnya sudah muncul lama sekali, tapi baru sempat saya tulis kemarin. Tulisan ini murni karya saya, bukan bentuk plagiarisme. Semua kutipan secara tidak langsung  sudah saya masukkan.

Mungkin anda belum pernah mendengar apa itu mitos gua Plato. Ilustrasi mitos gua pertama kali muncul dalam dialog Plato mengenai kepemerintahan negara, yaitu Republic. Tapi kali ini saya tidak akan membicarakan mengenai pemerintahan negara (meski saya seorang feminis yang sependapat dengan Plato bahwa wanita dapat memerintah sama baiknya dengan pria-bahkan lebih baik-dan dengan demikian memiliki beberapa argumen yang berkaitan dengan teks Republic) tapi bahasan kali ini akan sesuai dengan judul diatas. Saya akan membahas kekuatan perubahan, terkait dengan mitos gua Plato.

Apa itu mitos gua Plato?

Sama seperti filosof Yunani kuno pada umumnya, Plato banyak memberikan wejangan mengenai alam semesta. Misalnya bagaimana makhluk seperti kuda atau kelinci secara fisik bisa nampak sama. Ya, diluar perbedaan warna surai, ras, dan lain sebagainya, mereka memiliki kenampakan yang mirip. Tidak akan ada orang yang bilang bahwa kuda itu kelinci, atau sebaliknya. Artinya semua kuda itu sama, sekaligus tidak sama.

Saya mengambil contoh yang mudah, dari novel filsafat berjudul Sophie’s World. Dalam buku tersebut dicontohkan, misalnya ketika kita melihat kue jahe (kue jahe atau yang lebih akrab dengan sebutan gingerbread man memiliki bentuk seperti yang ada di film Shrek- I give note in case some of u don’t know ‘bout this) dalam jumlah besar, kita akan berpikir bagaimana semuanya tampak sama (sama seperti kuda tadi). Kenapa? Jawabannya sederhana, yaitu karena mereka berasal dari cetakan yang sama. Namun bagaimanapun tak ada dua kue jahe yang benar-benar sama, karena yang satu mungkin lebih tebal dari yang lain, dan yang satu mungkin tidak memiliki senyum yang sama lebarnya. Bentuk yang benar-benar sempurna hanya dimiliki oleh cetakan itu sendiri. Inilah perbedaan antara dunia harafiah-secara kasar dapat dikatakan sebagai dunia manusia-(meski saya lebih mudah mengatakannya sebagai dunia dalam pandangan manusia) dan dunia ide. Ok, demikian sedikit pengantar mengenai perbedaan dunia ide dan dunia harafiah yang digambarkan Plato.

Sepanjang sejarah
manusia selalu takut pada perubahan

Sekarang kita akan melihat bagaimana mitos gua Plato menggambarkan betapa sempitnya pandangan manusia dan ketakutan mereka akan perubahan. Sekelompok manusia hidup dalam gua yang sangat gelap dengan tangan terikat (namun mereka sama sekali tidak menyadari bahwa tangan mereka selama ini terikat-ini merupakan gambaran yang sangat jelas bahwa pandangan manusia sangat dibatasi oleh apa yang mereka ingin lihat-tanpa bersikap realistis). Selama ini mereka hidup dengan menatap bagian belakang gua-tanpa menyadari bahwa dunia sesungguhnya berada diluar gua. Api yang ada didalam gua membuat segala sesuatu yang berada diluar gua berbayang, dan bayangan itulah yang selama ini mereka anggap sebagai benda sesungguhnya.

Kemudian salah satu orang diantara mereka menyadari bahwa selama ini hidup dan cara pandang mereka berada dalam keterbatasan yang luar biasa pekat, lalu ia berusaha keras melepaskan diri dari ikatannya. Saat kemudian ia lepas itulah segala sesuatu berubah. Ia sangat takjub melihat segala benda dan alam indah yang berada diluar gua. Ia melihat berbagai macam warna yang sebelumnya tidak pernah dilihatnya, aroma bunga dan dedaunan, bahkan suara binatang dan aliran sungai. Kemudian ia berteriak-teriak memanggil sesama makhluk gua, mengajak mereka untuk melihat bagaimana rupa dunia yang sesungguhnya. Ia ingin menyadarkan rekan-rekannya bahwa selama ini mereka hidup di dunia yang sangat sempit (walaupun itu semua karena mereka tidak mau menyadarinya, dan tidak mau tanggap terhadap perubahan). Akhirnya semua orang menganggapnya gila. Mereka murka lalu membunuhnya (perlu diingat bahwa Plato juga mendapat perlakuan demikian. Ia mati karena dipaksa minum racun cemara).

Dari ilustrasi mitos gua Plato bisa kita lihat betapa sempit dan naifnya pemikiran manusia. Dan sepanjang sejarah, hal ini belum banyak berubah, atau bahkan bisa dikatakan sama sekali tidak berubah. Ini bukan ilustrasi semata, namun dari nasib Plato sendiri, kita dapat melihat bahwa hal semacam ini sudah sangat sering terjadi-dan terus terjadi-dalam dunia kita. Kenapa? Karena manusia takut  terhadap perubahan, dan mereka hanya ingin melihat apa yang ingin mereka lihat.

Sama halnya ketika kita bicara soal teori chaos and order, perubahan memang dibawa oleh chaos, justru pada saat tatanan kehidupan manusia sedang begitu teratur dan tersistematisasi. Sistematisasi-bisa dibilang salah satu contohnya adalah kebiasaan manusia untuk memakai kata LOGIKA-seringkali membuat pandangan begitu sempit dan sangat naif dengan cara yang menurut saya sangat menjijikkan. Manusia seringkali berusaha merasionalisasi segala sesuatu dan membuatnya berdasar logika-padahal perlu diingat bahwa logika hanya salah satu upaya manusia untuk memberikan batasan-baik yang kasar maupun halus-untuk memahami segala sesuatu. Namun manusia juga tidak boleh lupa bahwa segala sesuatu yang LOGIS berdasarkan LOGIKA tadi adalah berasal dari sesuatu yang tadinya tidak bisa dilogika oleh manusia.

Nah, kembali ke teori chaos and order tadi, bagaimanapun chaos memang diperlukan untuk membawa perubahan-sekalipun dalam bentuk yang sangat frontal. Manusia sekarang ini memang sudah terlalu manja, mereka bersembunyi dalam comfort zone mereka masing-masing dan enggan beranjak dari situ, sekalipun bangunan disekitarnya sudah menjadi puing dan debu mikro. Padahal seandainya mereka berani mereka bisa memulai perubahan, bekerjasama dengan mereka yang sejak awal memang memilih jalan untuk memulai perubahan-sama seperti manusia gua yang memandang ke luar gua tadi-mereka bisa menjadi makhluk yang lebih istimewa, yaitu makhluk yang lebih terhormat dan tidak hipokrit.

Tapi sayangnya mereka berkutat dalam dunia dan pandangan mereka yang sempit, dan yang paling buruk dari mereka adalah mencaci orang lain yang berani untuk mengambil langkah ekstrim, yaitu meninggalkan comfort zone mereka. Kenapa? Karena, sekali lagi, mereka hanya mau melihat apa yang ingin mereka lihat tanpa bersikap realistis, dan tidak tanggap terhadap perubahan. Ini salah satu yang membuat mata hati mereka bisu, buta, dan tuli. Perlu dicatat, yang menjadikan manusia macam ini paling menjijikkan adalah mereka memilih untuk menjadi seperti itu. Manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan paling tinggi untuk memilih dan menentukan jalan hidupnya sendiri, meskipun fakta ini seringkali tak ada gunanya karena sebagian besar masih memilih untuk menjadi makhluk naif dan hipokrit. Contoh lagi: manusia-manusia gua yang membunuh temannya-si awal perubahan tadi-adalah atas dasar pilihan mereka sendiri, bukan karena mereka ditakdirkan untuk membunuh dia. Sementara di sisi lain sebenarnya mereka memiliki potensi untuk mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik-jika saja mereka mau mengikuti perubahan. Tapi pilihan itulah yang pada akhirnya menjadikan mereka lebih rendah dan menjijikkan dari makhluk apapun yang ada di alam semesta.

Jika saya memiliki hak untuk menulis lanjutan dari mitos gua Plato saya pasti akan menuliskan bahwa pada akhirnya para pembunuh tadi diburu dan dimusnahkan oleh makhluk-makhluk yang hidup diluar gua, yaitu mereka yang jauh lebih berkuasa, lebih terhormat dan lebih beradab.

Anda yang membaca tulisan saya boleh saja mengatai saya sinting. Saya sama sekali tak peduli akan apapun yang mungkin anda katakan. I won’t give a damn. I don’t even care. Saya sendiri juga tidak berpendapat bahwa saya bukan orang sinting, karena di dunia yang ada sekarang ini saya sangat yakin hanya sangat sedikit orang yang cukup sinting untuk memikirkan hal-hal seperti ini. Oh ya, sebagai catatan tambahan saya perlu menegaskan bahwa meski contoh yang saya ambil berbicara mengenai perbedaan dunia harafiah dan non harafiah, tapi teks ini dapat ditafsirkan dengan sama jelasnya dari kedua sudut pandang tersebut-yang manapun yang anda pilih. Dan jika ada bagian yang mungkin agak sulit dipahami, ada buku yang berbicara mengenai kekuatan perubahan dan sangat mudah dibaca: Who Moved My Cheese. Hanya saja, buku ini murni berbicara mengenai kekuatan perubahan secara sangat sederhana, tanpa penjelasan mengenai dunia harafiah-non harafiah, kenaifan manusia ataupun hal lainnya yang berbau filsafat yang ada didalam tulisan ini.

Last but not least, so now you guys are human. But which type of human will you be? Will you drive or be driven by the chaos? It’s up to you, on how will you write your own scroll of fate =)

Advertisements

14 thoughts on “Kekuatan Perubahan dan Mitos Gua Plato

  1. arya says:

    saya jadi teringat ucapan Foucault dalam “The Order of Thing” yaitu sudah sekian lama manusia coba didefinisikan oleh ilmu sosial -ilmu humanioara – tapi tak satu pun dari padanya yang mampu mendefinisikan secara tepat. Apa daya manusia memang terlalu sulit untuk didefinisikan. Sehingga kemungkinan yang paling mendekati adalah absurditas yang dikemukakan oleh Albert Camus: hanya bisa dipahami namun tidak dijelaskan.
    dalam hal ini ketika kamu mulai membicarakan soal manusia seperti halnya plato, berdasar uraian tsb: seringkali ketika berbicara soal manusia kita lupa kalau kita juga manusia…..

  2. judithchen says:

    at least saya bukan seperti manusia umumnya yang langsung lari atau sembunyi di bawah meja begitu mendengar kata ‘perubahan’

  3. yoyo says:

    hai ka…..
    ngerti ga soal hubungannya filsafat sama psikologi??

    saya dapet tugas bahas gitu,tapi bener2 ga ngerti apa yang harus ditulis

    T.T

    • judithchen says:

      hi juga..sama2..senang kl tulisanku berguna 😀 ngga kog, aku kul komunikasi, cm kebetulan suka sama filsafat^^ boleh aja..itu ada link fb ku..

  4. tev says:

    maaf ka2 atau mba saya panggilnya taw teteh aja ya karena saya asli orang sunda….
    teh saya mau bertanya. apa yang menjadi penghubung utama antara poltik dan berfilsafat.. jikalau melihat kenyataan bahwa politik itu bisa dikatakan menjatuhkan… trus hubungan yang paling mendasar dengan filsafat itu apaan? karena filsafat itu adalah kebijaksanaan, dan menjatuhkan bukan suatu tindakan yang bijak….

  5. Judith Chen says:

    silakan, mau panggil apa aja boleh..

    first of all menurut saia apa yang menjadi idealisme tidak bisa diperbandingkan dengan apa yang ada dalam realita dengan cara demikian karena pada dasarnya berada di ground yang berbeda.

    filsafat pada dasarnya adalah dasar segala ilmu, sehingga ada sesuatu yang dinamakan dengan ‘filsafat politik’. setahu saya pada dasarnya politik itu pada zaman filsuf diilustrasikan sebagai perpanjangan tangan negara, yang dipimpin oleh orang2 terpelajar untuk mencapai tujuan negara demi kemakmuran rakyat.

    sementara pada kenyataannya bagaimanapun segala sesuatu yang dilakukan manusia, termasuk sistem kenegaraan, tidak mungkin sesuai dengan apa yang dikatakan ‘ideal’ justru sebaliknya pasti banyak cacatnya. secara filosofis ini karena manusia adalah makhluk yang tidak sempurna, sama halnya dengan idealisme politik.

    dan yang terjadi sekarang adalah, kekuasaan yang didapat bukannya digunakan untuk melaksanakan kewajiban tetapi untuk berlomba meraih kekuasaan sehingga pada akhirnya saling menjatuhkan. dan karena sudah terbiasa begitu maka sistemnya pun terbentuk demikian. pada akhirnya tidak ada lagi politik yang bersih.

  6. Supriyo says:

    Setiap manusia / masyarakat sebenarnya mengalami perubahan hanya ada yang cepat dan ada yang sangat lambat. Ada yang berubah menjadi lebih maju dan ada pula yang sebaliknya. lihat saja bangsa Jerman, Turki, Indonesia, dll. Kebudayaan Indonesia jaman dulu yang banyak meninggalkan berbagai candi yang amat rumit dan megah, alat pertanian, teknologi pengolahan logam,huruf jawa, dll bandingkanlah dengan keadaan sekarang. Yang suka terhadap perubahan yaitu mereka – mereka yang telah mempelajari segala sesuatu termasuk mempelajari teori Gua Plato. Memang nasib pembaharu biasanya kurang beruntung karena harus mengalami kontradiksi dari berbagai kepentingan dan keterbatasan pola pikir yang ada di masyarakat.

    • Judith Chen says:

      saia sependapat. basicly kl tidak berubah sama sekali seharusnya skrg tidak ada manusia yg survive.namun skrg perubahan banyak yg dirasa terlalu lambat sampai hampir tidak terasa sama sekali.

  7. supriyo says:

    mba Yudith, dlm perubahan ideologi atau agama mungkinkah tanpa chaos, sebab kadang2 suatu pendapat yg ada pada diri manusia atau sekelompok orang sulit diubah, bahkan kebenaran itu disakralkan dan mempunyai nilai yg mutlak. dan biasanya seseorang tdk mau tahu agama atau ideologi yg dianut orang lain. padahal di dunia ini ada berbagai macam agama dan ideologi.

    • Judith Chen says:

      bisa dikatakan tidak. tanpa adanya chaos tidak ada sesuatu yang akan mendorong perubahan itu terjadi. karena jika sudah fanatik mindset orang cenderung menjadi sempit dan telinganya tuli terhadap hal lain yang berada di luar comfort zonenya. terlebih lagi, ideologi dan agama adalah sesuatu yang terkadang dipahami secara bawah sadar, dan bahkan pikiran sadar pun belum tentu mampu mengubah apa yang ada di bawah sadar.

      Misalnya, banyak orang yang sama sekali tidak sadar bahwa mereka rasis kecuali jika dilakukan pembuktian empiris. sekedar info, pernah dilakukan tes rasis terhadap anak2 TK: anak2 dihadapkan pada dua gambar yang sama persis, kedua gambar ini isinya satu anak dompetnya jatuh dan yang satu berjalan di belakang dan memungut dompetnya. pada gambar pertama kedua anak berkulit putih, sementara pada gambar kedua anak di belakang berkulit hitam.

      Hampir semua anak menjawab sama.Ketika ditanya apa yang akan dilakukan anak pada gambar pertama, mereka menjawab: dia mau mengembalikan dompet anak satunya yang jatuh.Namun ketika ditanya mengenai gambar kedua, dimana anak yang memungut dompet berkulit hitam, sebagian besar anak menjawab “anak itu mau mengambil dompetnya dan tidak akan mengembalilkannya.”

      Hal ini menunjukkan bahwa bahkan praktik-praktik ideologi dalam bentuk apapun seringkali dilakukan tanpa sadar, dan itulah salah satu faktor mengapa sulit sekali mengubah “status quo” yang ada.

  8. rianadhivira says:

    perlu diingat bahwa Plato juga mendapat perlakuan demikian. Ia mati karena dipaksa minum racun cemara <–
    koreksi sedikit, yang mendapat hukuman mati itu socrates, guru ( kalau bisa disebut demikian) dari Plato, kartena dianggap menentang dewadewa kota dan menyebarkan kesesatan bagi kaum muda athena

  9. supriyo says:

    pada masa pemerintahan Jokowi, ada perubahan kurikulum, ada perubahan harga BBM, ada perubaham cara memandang laut ( tol laut ), ada perubahan cara menangani bandar narkoba, perubahan ujian tertulis dengan ujian online dll. perubahan – perubahan tersebut biasanya disambut dengan rasa takut, karena manusia takut akan perubahan. Bagaimana keadaan seperti ini diubah agar rakyat tahu mana perubahan yg membawa kemajuan dan perubahan yg hanya bersifat rebutan kekuasaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s