Scientology-Mass Anxiousity

Tulisan ini saya buat wkt smstr 4. Sepertinya kebanyakan orang belum tahu banyak, karena itu saya masukkan artikel Scientology ini  di blog. Saya akui analisisnya naif, karena tulisan ini saya susun untuk tugas kuliah. Tapi sejauh ini saya belum ingin menulis revisinya, mengingat kontroversi yang akan ditimbulkan, dan sekarang ini saatnya belum tepat untuk publikasi. Tapi tulisan ini bisa dipertanggungjawabkan dan kualitasnya dijamin, karena nilainya A untuk mata kuliah etika filsafat komunikasi 🙂

Well, jika mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa meski Scientology merupakan katalis global, saya menuliskannya sebagai mass anxiousity. Alasan pertama karena Scientology belum banyak diketahui secara luas di belahan dunia timur termasuk Indonesia. Dan saya yakin hanya sangat sedikit yang memahami bagaimana Scientology itu sebenarnya, karena ini menuntut pola pemikiran secara filsafat. Boleh percaya boleh tidak, tapi Scientology tidak bisa hanya dipahami  secara harafiah.

Dan karena tuntutan  pemahaman macam ini, maka sementara ini artikel yang saya publikasikan adalah yang analisisnya secara harafiah, dengan pembahasan global ethic (dan karena alasan itu analisisnya saya katakan naif). Lain waktu akan kita lihat dari sudut pandang filsafat. (sementara ini mohon jangan mempertanyakan dulu mengapa religi dipandang dari sudut pandang filsafat, alasan paling sederhana yang dapat saya kemukakan adalah Scientology memiliki landasan pemikiran filosofis itu sendiri. Jika anda masih bingung mohon baca artikelnya terlebih dulu kemudian baru ditelaah lebih dalam). Selamat membaca.

Scientology:
Jawaban Misteri Kehidupan?

Di saat chaos menyerang segala ketahanan
manusia, segala pertanyaan akan misteri kehidupan akan membuat dahaga tak
tertahankan. Pertanyaan yang bahkan mungkin institusi seperti agama
konvensionalpun belum mampu menjawabnya.
Kemudian datanglah sesuatu yang lain, ia bagai dewa penolong yang menyatakan
mampu menjawab segala pertanyaan tersebut. Ia adalah religi yang tidak diakui
di Indonesia namun menjamur di belahan dunia barat. Ialah Scientology.

Proses persuasi
Scientology

Ketika pertama kali membuka situs Scientology, orang biasanya akan
terpersuasi oleh kata-kata yang ada disitu: “ Apakah anda mempunyai masalah
dalam karir atau sekolah? Ataukah anda memiliki permasalahan dalam bidang
lainnya? Kami disini untuk membantu anda.” Kemudian dibawahnya tertera daftar bidang
yang mereka sediakan untuk konsultasi online. Mereka menjanjikan, masalah
apapun pasti dapat diselesaikan dengan baik, tentunya dengan metode yang mereka
tetapkan.

Scientology merupakan sebuah religi yang pertama kali dikenal dunia pada
tahun 1950. Penemunya adalah L. Ron Hubbard, seorang filosofis yang telah
menulis lebih dari 5000 buku di bidangnya dan buku fiksi, dengan buku
bestsellernya Dianectics: The Modern Science of Mental Health. Dianectics
adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk membantu orang lain dan dapat
diaplikasikan dalam berbagai bidang, bisa dikatakan dianectics adalah
sebuah metode pembelajaran, meski disini kita tidak akan membahasnya lebih
lanjut, tapi dianectics memiliki peranan penting dalam running program
Scientology, terutama untuk pembentukan mindset (tentang mindset nanti
akan dijelaskan lebih rinci). Bahkan New York Times mengakui: History
has become a race between dianectics and catastrophe
(dunia telah menjadi
ajang perdebatan antara dianectics dan bencana). Jelas sekali, metode
ini telah dianggap sebagai ‘penyelamat’ dari berbagai macam permasalahan dalam
konstruksi sosial masyarakat.

L.Ron Hubbard adalah putra dari Harry Ross Hubbard dan Ledora May Hubbard,
ia dilahirkan tanggal 13 Maret 1911 di Tilden, Nebraska. Sejak kecil ia memang
telah tertarik dengan misteri umat manusia, sehingga ketika ia berkeliling
dunia dan singgah di berbagai tempat di berbagai penjuru, ia sengaja singgah
untuk mempelajari beragam ilmu. Ron Hubbard sangat menyukai filosofi. Semasa
hidupnya ia telah mempelajari berbagai macam filosofi seperti filosofi timur,
Yunani, Buddhism dan lain sebagainya.. Sejak masih muda tujuan utama hidupnya
adalah merumuskan dan menguji semua ilmu pengetahuan, terutama yang berkaitan
dengan permasalahan umat manusia. Langkah selanjutnya adalah mencari jalan
keluarnya dengan menemukan mindset yang tepat, dan bagaimana tepatnya mindset itu difungsikan. Ia
telah meninggal dunia tahun 1986, namun religi yang didirikannya ini masih
hidup sampai sekarang bahkan merambah luas di seluruh dunia yang bahkan mampu menarik banyak artis
Hollywood seperti Tom Cruise, bintang pesepakbola David Beckham serta banyak
orang ternama lainnya menjadi pengikutnya. Dan jangan salah, meski tidak diakui
di Indonesia, bukan berarti ia tidak punya aktivitas di negri ini. Sebuah activity
report
di home site Scientology menyebutkan bahwa beberapa volunteer
telah datang ke Indonesia tanggal 16 Maret 2007 untuk memberikan bantuan
pengarahan mengenai drugs, meski tidak disebutkan, dimana lokasinya
secara lebih spesifik.

Kembali pada pembicaraan sebelumnya, bahwa pada intinya Scientology
berusaha mencari mindset dari segala macam kasus dan mencari jalan keluarnya
dengan basis sains. Scientology percaya bahwa pada dasarnya yang diperlukan
seorang manusia untuk menyelesaikan segala permasalahan dalam hidupnya dan
menjawab misteri kehidupan adalah sebuah mindset yang tepat. Disebutkan juga
ada beberapa orang yang sesungguhnya memang ditakdirkan memegang kunci bagi
kelanjutan nasib umat manusia. Mereka jugalah pemilik alami mindset ini, yaitu
mereka yang ‘bukan manusia’. Namun Scientology juga percaya, mindset ini dapat
dipelajari oleh awam. Maka semua manusia dipercaya mampu untuk menjadi ‘bukan
manusia’. Contoh kasus akan diberikan pada bagian akhir tulisan ini.

Diklaim sebagai
perpanjangan fakta fundamental

Kata scientology artinya ‘the
study of truth
’. Asalnya dari bahasa latin ‘scio’ yang artinya ‘mengetahui
keseluruhan arti dari kata itu’ dan ‘logos’ yang artinya ‘studi’. Scientology
adalah pembelajaran mendalam mengenai jiwa (spirit) dalam sebuah relasi
keseluruhan dalam hidup. (http://www.scientology.org/).
Scientology sebagai sebuah religi adalah perpanjangan dari fakta-fakta
fundamental. Inti pembelajarannya adalah bahwa para penganutnya percaya bahwa
jiwa manusia itu kekal, ia memiliki pengetahuan lebih dari yang didapatnya
selama satu periode kehidupan, dan kemampuan tersebut dapat digunakan meski
orang tersebut belum tentu menyadarinya. Nantinya manusia akan dianggap mampu
bukan hanya untuk mengatasi permasalahan hidupnya sendiri, tapi juga untuk
mencapai tujuan hidupnya dan mendapatkan kebahagiaan dan bahkan mendapatkan
sesuatu yang membuatnya lebih tinggi (baik dalam kemampuan maupun kepekaan). Scientology
disini dianggap bukan sebagai sebuah kepercayaan, karena basis ajarannya diklaim
sebagai sebuah fakta.

Dalam ajarannya Scientology juga
menyebutkan bahwa selain manusia masih ada makhluk lain yang memiliki kedudukan
lebih tinggi. Jika manusia bisa mencapai kebebasan spiritual maka ia akan
memiliki kedudukan yang sama dengan makhluk tersebut. Untuk itu, dibawah ini
akan diberikan penjelasan lebih lanjut:

Manusia terdiri dari tiga bagian ,
yaitu roh, pikiran dan tubuh. Dan tubuh itu berbeda dari individu, tubuh
dianggap hanya sebagai sebuah medium. Bagian yang paling penting dari ketiganya
adalah roh, atau dalam Scientology disebut thetan.

Dinamika
Eksistensi

Dalam
http://www.scientology.org/,
disebutkan ada delapan dinamika:

Dinamika
ke-8 INFINITY, biasanya disebut juga Tuhan

Dinamika
ke-7 SPIRITUAL DYNAMIC- makhluk spiritual beridentitas apapun

Dinamika
ke-6 PHYSICAL UNIVERSE dengan empat komponen: bahan/kandungan, energi, ruang
dan waktu

Dinamika
ke-5 LIFE FORMS termasuk semua tanaman dan hewan yang hidup

Dinamika
ke-4 MANKIND (manusia) sebagai sebuah spesies

Dinamika
ke-3 GROUP SURVIVAL baik teman, klub, jabatan, maupun bangsa atau negara

Dinamika
ke-2 FAMILY

Dinamika
ke-1 SELF adalah individu, termasuk tubuh, pikiran dan sesuatu yang dimilikinya.

Ada
semacam stratifikasi dalam kehidupan manusia. Setiap makhluk hidup, termasuk
manusia memiliki kedudukan dalam tiap strata kehidupan. Dengan Scientology ia
bisa mencapai tingkatan yang lebih tinggi sebagai makhluk hidup meskipun tentu,
untuk mencapainya diperlukan kompetensi, kebahagiaan, self-esteem
(dorongan pada diri), kejujuran dan atribut lainnya.

Bagian
lain dari ajaran Scientology menyebutkan sekali lagi, dalam diri manusia, ada
bagian lain dari jiwa yang bisa diasah untuk memiliki kemampuan yang lebih, dan
pada akhirnya, bisa mendorong individu untuk mencapai strata kehidupan yang
lebih tinggi. Pikiran menjadi bagian yang sangat penting untuk mengatur
kehidupan. Saat seseorang mampu memanipulasi dan menggunakan pikirannya untuk
mencari sumber segala permasalahan hidupnya kemudian menyelesaikannya, dia
bukan lagi manusia. Pikiran ini sendiri memiliki komunikasi dengan makhluk lain
yang memiliki strata diatas manusia. Singkatnya, manusia memiliki kesempatan
untuk menjadi makhluk yang memiliki strata yang lebih tinggi. Ini adalah bagian
dari pembebasan spiritual.

Hal
lainnya yang masih erat kaitannya dengan masalah ini adalah ketahanan mental.
Ketika seseorang bisa memanipulasi dan meregulasi pikirannya, ia akan memiliki
ketahanan mental yang luar biasa. Pengikut Scientology memiliki E-Meter, yang
bisa digunakan untuk mengukur ketahanan mental dan perubahan kondisi mental.

Scientology
juga percaya pada reinkarnasi. Manusia sering membawa masalah dari kehidupan
sebelumnya ke kehidupannya yang sekarang, terutama yang berkaitan dengan
kemampuannya untuk menghadapi masa depan. Salah satu penyebab masalah ini
adalah ketidakmampuan manusia untuk
mengontrol kekuatan (power). Tubuh hanyalah medium, sehingga manusia
disarankan untuk bisa menyelesaikan permasalahannya tanpa melibatkan medium
tersebut secara fisik, tapi lebih memanfaatkan thetan. Manusia memiliki
kecenderungan untuk memfokuskan diri dan intens dalam satu bidang namun tidak
menguasai bidang yang lainnya. Saat seseorang telah menguasai satu bidang, ia
akan memiliki kemampuan untuk merevolusi kemampuannya untuk memilih, dan
kemudian dapat menikmati kegiatan baru. Dapat dikatakan, ini salah satu
kriteria untuk menaikkan derajat manusia dalam strata kehidupan. Scientology
memberikan bagaimana saran yang dapat mendukung manusia untuk lebih mampu dalam
mengontrol kekuatannya sendiri.

Pandangan
Gereja Scientolog

Dengan dogmanya (creed): “That all men of
whatever race, color, or creed were created with equal rights.”
(Bahwa
semua manusia dari ras, warna kulit, atau kepercayaan manapun diciptakan dengan
hak yang sama.) Penganut Scientology menyatakan: “Kami mendukung program yang
melindungi dan mendukung hak azasi manusia baik pria maupun wanita, dan
mengkritik segala bentuk kekerasan/pelanggaran terhadap hak azasi manusia.” (http://www.scientology.org/). Dogma ini
ternyata hampir sama bunyinya dengan deklarasi global ethic yang dicanangkan
tanggal 4 September 1993 di Chicago dan ditandatangani oleh 143 wakil religi
dari seluruh dunia (wakil-wakil ini meliputi wakil agama konvensional dan
beberapa aliran: Taoisme, Brahmanisme, Unitarian Universalist, Zoroastrian,
Theosophist, dll). Soal kesamaan ini nantinya akan dibahas lebih lanjut.

Tujuan
Scientology

Kehidupan tanpa kegilaan, penyakit mental, kejahatan, dimana manusia yang
jujur bisa mendapatkan haknya dan mencapai tingkatan yang lebih tinggi. Jadi
tujuan utamanya adalah mencapai tingkatan kehidupan yang lebih tinggi bagi
manusia, dengan pembebasan spiritual.

Scientology mengklaim bahwa ia memiliki tujuan baik untuk menaikkan derajat
umat manusia dan menginginkan dunia yang damai tanpa perang, serta menegakkan
persamaan hak. Ini jelas bukanlah hal yang mudah untuk diwujudkan, namun bagi
para pengikut Scientology, dengan semakin banyak orang yang turun serta
membantu semakin baik bagi revolusi dunia.

Kegiatan Scientology

Dibawah ini adalah empat dari berbagai macam independent
activity
para volunteer Scientology:

  1. Narcanon

Narcanon adalah salah satu kegiatan amal berupa
pengarahan dan bantuan untuk rehabilitasi Narkotika dan bahan kimia lainnya.
Scientology percaya bahwa narkotik dan bahan kimia lainnya yang dikonsumsi
manusia akan meninggalkan residu dalam diri manusia yang akan menghambat
pembebasan spiritual. Solusi yang disarankan adalah obat-obatan lainnya yang
telah tersedia. Gunanya adalah mendetoksifikasi residu tersebut untuk membantu
kebebasan sipiritual. Ini dianggap penting, karena efek dari residu dalam tubuh
dapat muncul bahkan setelah bertahun-tahun kemudian, terutama dalam kondisi
mental tertekan. Selain itu, ada proses lain yang sudah terprogram, misalnya
sauna.

Narconon sendiri artinya ‘tanpa obat-obatan’.
Narconon berpusat di Los Angeles, dengan 106 program rehabilitasi di 36 negara
di seluruh dunia, dan 40 gedung pusat yang juga tersebar di berbagai penjuru
dunia. Narconon sendiri telah datang ke Indonesia tanggal 16 Maret 2007 lalu
untuk memberikan pengarahan anti-narkotika, meski lokasi lebih jelasnya tidak
diketahui. Ron Hubbard sendiri menyatakan bahwa pecandu tidak memiliki
keinginan menjadi pecandu, tapi ia dikendalikan oleh rasa sakit dan
keputusasaan. Begitu si pecandu merasa lebih sehat secara fisik dan mental,
tanpa obat-obatan, ia akan berhenti membutuhkan obat-obatan tersebut.

  1. Criminon

Criminon adalah program amal yang bertujuan
merehabilitasi para kriminal temasuk yang di penjara untuk mencapai perubahan
ke arah yang lebih baik demi mencapai dunia yang damai tanpa kejahatan. Programnya
adalah memberikan pembelajaran mengenai kehidupan sosial yang positif dan
membantu permasalahan dalam hidup mereka. Metode yang digunakan adalah Way
To Happiness
. Metode ini adalah semacam pembelajaran moral untuk
membangkitkan keyakinan akan self-worth, bahwa seorang tahanan/mantan
tahanan sekalipun berhak mendapatkan hak dan perlakuan yang layak asalkan ia
juga mampu menyeseuaikan diri dengan masyarakat dalam lingkungan sekitarnya.

  1. Scholastics

Ini adalah program amal untuk menunjang
pendidikan, baik untuk anak-anak maupun dewasa. Program ini termasuk pengasahan
bakat, training untuk tenaga pengajar, bahkan bantuan buku. Tujuan utamanya
adalah menempatkan baik anak-anak maupun dewasa untuk keluar dari sistem
pendidikan umum yang dianggap tidak mampu untuk memahami kekurangan individual
dalam proses pembelajaran, terutama yang tertinggal dalam program sekolah umum.
Program ini telah dimulai tahun 1972, dengan 150 scholastic program di 53
negara dalam 6 kontinen.

  1. The Way To Hapiness

Ini adalah program/metode mendasar yang menawarkan
pada komunitas kode moral non-religius yang didukung oleh Scientology (dan
orang lain yang memiliki tujuan baik). Metode ini juga telah dituliskan dalam
sebuah buku dengan judul yang sama. Metode ini membantu anak dan orang dewasa
menerapkan standar mereka sendiri mengenai konsep baik dan buruk, kemudian
mengembangkan self-esteem. Sekali lagi, setali tiga uang dengan program yang
lain, pendekatan yang dipakai adalah pendekatan personal.

Pandangan
Global Ethic Terhadap Scientology

    1. Deklarasi Global Ethic

Global ethic didefinisikan sebagai: “A set of
universal principles applied to all kind of culture, proffesion, philosohies
and faith.” Draftnya dibuat oleh Dr. Hans Kung, dengan kerjasama dengan Komite
Religi Dunia, dengan didukung oleh 200 badan pendidikan (scholar) dan diikuti
perwakilan 143 orang dari 40 kepercayaan berbeda. Deklarasi pertama dibawakan
oleh Tony Blair tahun 1993.  (http://www.cpwr.org/resource/global_ethic.htm).
Ada empat pernyataan pokok:

1.1.
Commitment to a culture of non-violence and respect of life

1.2.
Commitment to a culture of solidarity and a jus economic order

1.3.
Commitment to a culture of tolerance and alife of truthfulness

1.4.
Commitment to a culture of equal rights and partnership between men and women.

Sementara isi deklarasinya adalah
sbb:

We are
interdependent. Each of us depends on the well-being of the whole, and so we
have respect for the community of living beings, for people, animals, and
plants, and for the preservation of Earth, the air, water and soil.

We take individual responsibility for all
we do. All our decisions, actions, and failures to act have consequences.

We must treat others as we wish others to
treat us. We make a commitment to respect life and dignity, individuality and
diversity, so that every person is treated humanely, without exception. We must
have patience and acceptance. We must be able to forgive, learning form the
past but never allowing ourselves to be enslaved by memories of hate. Opening
our hearts to one another, we must sink our narrow differences for the cause of
world community, practicing a culture of solidarity and relatedness.

We consider humankind a family. We must
strive to be kind and generous. We must not live for ourselves alone, but
should also serve others, never forgetting the children, the aged, the poor,
the suffering, the disabled, the refugees and the lonely. No person should ever
be considered or treated as a second-class citizen, or be exploited in any way
whatsoever. There should be equal partnership between men and women. We must
not commit any kind of sexual immorality. We must put behind us all forms of
domination or abuse.

We commit ourselves to a culture of
non-violence, respect, justice, and peace. We shall not oppress, injure,
torture, or kill other human beings, forsaking violence as a means of settling
differences.

We must strive for a just social and
economic order, in which everyone has an equal chance to reach full potential
as a human being. We must speak and act truthfully and with compassion, dealing
fairly with all, and avoiding prejudice and hatred. We must not steal. We must
move beyond the dominance of greed for power, prestige, money, and consumption
to make a just and peaceful world.

Earth cannot be changed for the better
unless the consciousness of individuals is changed first. We pledge to increase
our awareness by disciplining our minds, by meditation, by prayer, or by
positive thinking. Without risk and a readiness to sacrifice there can be no
fundamental change in our situation. Therefore we commit ourselves to this
global ethic, to understanding one another, and to socially beneficial,
peace-fostering, and nature-friendly ways of life.

We
invite all people, whether religious or not, to do the same
(http://www.religioustolerance.org/parliame.htm)

    1. Nilai Normatif Global Ethic Terhadap
      Scientology

Dari sejarah penemunya yang merupakan seorang
filosof dan yang telah mempelajari berbagai filosofi dari seluruh belahan
dunia, Scientology sepertinya memiliki basis ajaran religi resmi yang telah
diakui di berbagai penjuru dunia. Bisa dibilang ia adalah religi sinkretis. Ini
menyebabkan orang sebaiknya tidak memberikan reaksi frontal terhadap
Scientology karena adanya religi lain yang ikut menjadi basis ajaran
Scientology ini memiliki banyak pengikut yang tersebar di seluruh dunia,
misalnya Buddhism dan berbagai macam ajaran lain dari Yunani, Indian, belahan dunia
timur, dll. Para pengikut religi lain ini juga bisa ikut tersinggung jika ada
reaksi frontal terhadap Scientology, sebab bagian dari ajaran Scientology juga
ada didalam ajaran religi tersebut. Sebagai contoh, Ron Hubbard dengan berani
menjadikan peristiwa moksa Sidharta Gautama sebagai salah satu bukti peristiwa
untuk menguatkan kepercayaan mengenai reinkarnasi dan keberadaan makhluk
spiritual yang memiliki strata diatas manusia.

Sejak awal tujuan utama Ron Hubbard adalah mencari
jawaban dari misteri kehidupan, terutama misteri kehidupan manusia. Maka secara
singkat dari gambaran kasar diatas dapat disimpulkan bahwa Scientology
terinspirasi dari berbagai macam filosofi yang telah mengakar dari belahan
penjuru dunia. Membuat klaim lain secara radikal, secara tidak lansung, cepat
atau lambat, akan menimbulkan banyak konflik dan kontroversi. Disinilah pentingnya
peran global ethic, dan ciri yang dimilikinya: menjadi penengah yang bersifat
normatif dan bukan absolut.

Kebebasan spiritual yang menjadi basis ajaran
Scientology, dan yang digambarkan oleh Scientology sendiri tidak bisa
disalahkan, karena bagaimanapun definisi kebebasan spiritual secara umum kurang
lebih memang cenderung subjektif. Namun ada atau tidaknya makhluk lain bukan
Tuhan yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari manusia masih merupakan misteri
semesta, dan karenanya tidak dapat ditentukan benar atau salahnya. Diluar itu
semua, program yang diadakan oleh Scientology-yang sebagian besar bertujuan
amal-nampaknya memiliki tujuan yang positif meskipun tentu, bagaimana dampak ke
depannya belum bisa terprediksi.

Tapi bagaimanapun juga memang sulit untuk
dipungkiri, bahwa idealisme Scientology yang mengimpikan ‘dunia tanpa kegilaan,
penyakit mental, kejahatan, dimana manusia yang jujur bisa mendapatkan haknya
dan mencapai tingkatan yang lebih tinggi’ itu bagi sebagian besar orang mungkin
masih terdengar utopis (meski sekali lagi, tidak bisa juga dianggap salah,
terutama karena usaha dan praktek yang kemudian dilakukan pengikutnya, terutama
pada kegiatan amalnya). Karena menurut teori Chaos and Order dunia tidak
akan dinamis tanpa adanya chaos, sebab ketahanan manusia tercipta dari awareness,
dimana chaos datang saat tatanan manusia telah begitu terstruktur dan
terkoordinasi. Awareness inilah
yang membangunkan manusia dari kestatisan sistem, dan yang kemudian membawanya
pada kemajuan.

BIBLIOGRAPHY

criminoninfo@criminon.org

http://philosophy.zsu.edu.cn/info_Show.asp?ArticleID=336

http://www.cpwr.org/resource/global_ethic.htm

●  http://www.religioustolerance.org/parliame.htm

http://www.scientology.org

info@twth.org

rehab@narconon.org

Advertisements

One thought on “Scientology-Mass Anxiousity

  1. herbal tradisional alternatif says:

    Hiya very cool website!! Man .. Beautiful ..
    Superb .. I’ll bookmark your website and take the feeds additionally?

    I’m satisfied to seek out numerous useful information right here within the publish,
    we want develop extra techniques in this regard, thank
    you for sharing. . . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s