CG Jung VS Freud: Gejala Psikis, Faktor Lampau atau Naluri Masa Depan?

Seperti yang kita lihat bahwa dalam sejarah, sesungguhnya Jung adalah murid sekaligus sahabat Freud. Namun perjalanan karir membawa mereka ke jalan yang berbeda. Dalam perkembangannya, Jung ‘menyimpang’ dari jalan psikoanalisa dan membangun teorinya sendiri. Salah satu teorinya yang paling terkenal sekarang adalah teori personality, yang sering disebut sebagai teori aliran Jungian. Tapi bagi saya sepertinya menarik untuk mempelajari apa yang telah ditulis dua tokoh ternama ini di masa lampau.

Topik ini mungkin bukan topik yang baru. Topik ini saya angkat dari sesuatu yang bisa jadi sudah dilupakan banyak orang atau hanya dianggap sebagai sejarah belaka. Well, kecuali mungkin bagi orang yang menekuni bidang psikologi. Tujuan saya sederhana. Saya sebagai mahasiswa yang hanya belajar psikologi dari buku dan internet ingin mengajak sesama pelajar atau siapapun yang suka menulis supaya tidak ragu untuk menulis apa saja yang menarik (bukan hanya dari topik psikologi). Banyak yang ingin menulis tapi mungkin minder karena tidak punya ide yang ia rasa menarik, atau takut salah. Dari tulisan ini saya ingin berkata: tidak usah takut salah, kalau mau nulis ya nulis saja. Salah kan salah satu sarana pembelajaran juga. Lha wong Freud dan Jung saja bisa salah kok…apalagi elo ama gue yang ‘jadi orang’ aja belom..

Jung: Dalam teori finalismenya, Jung menyatakan bahwa gejala psikis tidak disebabkan oleh faktor-faktor masa lampau, melainkan pada naluri masa depan. Hal ini akan berkaitan erat dan berkembang dengan teori psikologisnya masa sekarang yang juga dirumuskan oleh Keirsey dalam versi yang sedikit berbeda (atau juga dikenal dengan Myers Briggs, dan ada pula yang versi socionics) terutama dalam deskripsiya mengenai INTJ. (Jika memakai pendekatan teori modern Jung sendiri mengenai INTJ, ia sendiri adalah seorang INTJ, sehingga kemungkinan besar pendekatan yang ia gunakan ketika menyatakan argumen ini adalah segi pemahaman ‘the big picture’ atau secara garis besar, tidak mendetil dan terfokus pada satu sisi seperti Freud, yang melihat dari segi seksual dan bawah sadar). Dan satu hal lagi yang perlu dicatat, bisa diasumsikan bahwa pernyataan Jung diatas sebetulnya tidak bicara tentang alam bawah sadar, seperti halnya teori Jung sekarang yang lebih banyak bicara soal kinerja alam sadar dan mindset.

Freud: Basis pemikirannya berada pada peletakan psikoanalisis sebagai sesuatu yang berkonteks pada pikiran bawah sadar [bicara soal konteks, banyak yang harus dicermati dalam buku Freud, terutama penggunaan konteks alam bawah sadar], yang dianggapnya memiliki kuasa lebih besar dari pikiran sadar (dan yang dipercaya memang benar sampai saat ini sehingga dipakai sebagai pendekatan dalam banyak cabang ilmu, bukan hanya psikologi, tapi juga cabang ilmu lain termasuk komunikasi. Misalnya dalam teori hegemoni Antonio Gramsci, pendekatan Freud memiliki pengaruh cukup besar). Freud mengatakan: mimpi dan neurosa mengungkap “pikiran lebih tinggi” dengan cara sexual. Dan bahwa itu semua hanyalah pengungkapan arkais, (arkais = old fashioned, no longer in use, red) tidak cocok dengan kenyataan bahwa kompleks-kompleks sexual dalam neurosa berisi unsur libido yang telah ditarik dari kehidupan biasa (karena terepresi kedalam alam bawah sadar). Ini bukan hanya pengungkapan sexual, karena terjadi perubahan kekuatan libido. Yang artinya, bisa disimpulkan bahwa Freud berpendapat gejala psikis lebih banyak dipengaruhi oleh represi masa lampau yang kemudian terwujud dalam perubahan libido dalam dunia nyata. Jelas sekali bahwa konteks yang digunakan psikoanalisis Freud adalah alam bawah sadar.

Pertama kali saya membaca kedua pernyataan ini, saya agak bingung. Seolah menemukan keganjilan tapi belum menemukan dengan pasti dimana keganjilan itu (dan juga karena belum yakin bisa dapat back up data untuk tulisan ini). Sejak semester 4 saya menyadari bahkan rumusan-rumusan para ahli super termashyur seperti Freud dan Jung pun bisa salah dan bahkan, banyak cacatnya. Waktu itu saya banyak menemukan rumusan-rumusan cacat dalam psikoanalisis Freud. Saya berpikir, apa hanya saya yang sok tahu karena jelas sekali, saya bukan mahasiswi psikologi (saya mahasiswi ilmu komunikasi) dan hanya mempelajari psikologi dari buku dan internet belaka. Tapi ketika saya berkonsultasi dengan teman saya sesama alumni Van Lith yang bekerja sebagai dosen psikologi di Universitas Bina Nusantara Jakarta, mbak Prima, dia mengiyakan pernyataan-pernyataan saya. Yang juga berarti, saya nggak bego-bego amat dan nggak cuma bisa sok tahu doang :p

Dua pernyataan diatas oleh Freud dan Jung adalah dua pernyataan yang mereka perdebatkan dan jika saya tidak salah ingat, menjadi salah satu akar permasalahan yang menyebabkan relasi kerja mereka retak. Padahal dalam konteks tertentu, bisa dilihat bahwa kedua pernyataan tersebut benar sekaligus tidak benar. Namun jika mengabaikan konteks argumen yang mereka perdebatkan, sesungguhnya: keduanya benar. Seperti yang telah saya garis bawahi diatas, sesungguhnya kedua konteks argumen Jung dan Freud adalah berbeda.

Obviously, saya juga memiliki pemikiran tersendiri yang akan saya rumuskan dalam tulisan ini. Tapi setidaknya, saya menggunakan referensi-referensi yang terpercaya: situs resmi Jung, textbook pengantar psikologi dan psikoanalisis Freud. Jadi pendapat saya adalah:

  1. Gejala psikis manusia secara keseluruhan dipengaruhi oleh represi masa lalu, dan juga naluri masa depan. Setiap orang memiliki represi masa lalunya sendiri-sendiri yang tetap memiliki pengaruh signifikan, sebesar dan sekacil apapun. Tapi tidak semua orang memiliki naluri masa depan yang kuat. (Karena Jung adalah seorang INTJ, maka ia adalah tipe yang anxiousity dan naluri terhadap masa depannya paling besar, namun ia sendiri sekarang ini menemukan bahwa tidak semua orang demikian. Tipikal personality yang lain mungkin memiliki naluri masa depan yang jauh lebih kecil dan bisa jadi tidak terlalu signifikan seperti represi masa lalunya, karena basis pemikiran dan mindsetnya sama sekali berbeda. (Untuk keterangan lebih lanjut, baca www.personalitypage.com). Intinya, asumsi saya adalah, dalam kasus tertentu, bisa jadi dalam kondisi psikis seseorang represi masa lalu dan naluri masa depan memiliki porsi yang berimbang atau sama sekali berbeda, tentu saja dalam konteks luas-baik dalam alam sadar maupun bawah sadar-atau bisa dikatakan dari segi mindset manusia pada umumnya, yaitu pendekatan yang menggunakan pemahaman keduanya sekaligus secara menyeluruh.
  2. Output represi masa lalu, yang terungkap lewat mimpi, dan yang umumnya terekam dalam periode tertentu semasa manusia tidur tidak selalu bersifat sexual. Selain itu, jika dikaitkan dengan teori represi dalam mimpi kita bisa lihat bahwa alam bawah sadar manusia memiliki sifat defensif, yaitu dengan merepresi mimpi yang nantinya bisa mengganggu kinerja alam sadar. Dan outputnya adalah, orang tersebut akan melupakan mimpi yang bermasalah tersebut. Yang juga berarti, kadangkala dalam kondisi normal, represi masa lampau yang terwujud dalam mimpi tidak akan memiliki pengaruh signifikan terhadap kehidupan alam sadar manusia (Hal ini nanti akan saya bahas dengan sedikit menjelaskan mengenai REM dan NREM sleep). Meskipun dalam kondisi/kasus tertentu, represi ini nantinya juga bisa menimbulkan masalah, misalnya seperti personality disorder. Karena bagaimanapun, represi tetaplah represi, yang nampak atau tidak nampak, ia tetap ada. (Saya tertarik dengan personality disorder, karena kehidupan pribadi saya banyak diganggu oleh orang yang menderita kelainan jiwa. Tapi kita akan membahas ini lain kali).

3. Disini nanti juga akan dibahas faktor tambahan diluar pendapat Freud dan Jung diatas, dengan beberapa teori yang menggunakan pendekatan Freud, yaitu mengenai REM (Rapid Eye Movement) sleep, NREM (Non Rapid Eye Movement) sleep, dan apa hubungannya dengan represi, alam bawah sadar dan variabel-variabel lain yang sudah disebutkan sebelumnya. Nantinya juga akan ditambahkan beberapa analisis lain, baik dari referensi saya maupun analisis pribadi saya.

REM dan NREM sleep

Dalam pengantar psikologi, biasanya kita akan mempelajari apa itu REM dan NREM sleep. Singkatnya, REM sleep adalah fase dimana masa aktif tidur terjadi, dan terjadi kurang lebih 90 menit setelah manusia tertidur. REM sleep juga erat kaitannya dengan mimpi, yang artinya orang kebanyakan mengalami mimpi yang mampu diingatnya pada fase ini. Fase REM sleep terjadi 4-5 kali semalam dalam durasi waktu yang berbeda, rata-rata sekitar 45 menit. Fase REM merupakan masa aktif tidur, namun pada fase ini grafik otak mengalami pergerakan cepat dengan tingkat voltase rendah. Dan sesuai namanya, dalam REM bola mata mengalami pergerakan secara simultan. Lain halnya dengan NREM. Dalam fase NREM grafik otak mengalami pergerakan yang lambat, namun dengan voltase yang tinggi. Fase NREM juga dikenal dengan fase deep sleep, dan kebanyakan orang yang sedang mengalami fase ini tidak mampu mengingat mimpinya dengan jelas.

Perlu dicatat bahwa ada sebuah penelitian yang juga disebutkan dalam textbook Pengantar Psikologi yang saya baca, dikatakan bahwa sesungguhnya orang yang tidak bermimpi adalah orang yang tidak dapat mengingat mimpinya. Dan dalam penelitian lain, dikatakan bahwa kemampuan untuk mengingat mimpi terbukti sama sekali tidak bisa diasosiasikan dengan memory capacity seorang manusia.

Dari sini kita bisa melihat bahwa dari satu sisi, menurut asumsi teori represi, represi juga memiliki sisi dimana ia bisa terlepas dari alam sadar, sebagaimana kita lihat memory capacity seseorang tidak mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mengingat sebuah mimpi, karena itu bergantung dari: pertama, waktu manusia mengalami mimpi (REM atau NREM sleep). Dan yang kedua adalah apakah ‘sistem ketahanan’ manusia menganggap mimpi itu bermasalah atau tidak (sehingga tersortir masuk ke alam sadar atau tetap terepresi di alam bawah sadar). Tapi satu hal yang tetap perlu diingat adalah, sebagaimanapun hebatnya proses represi sebuah mimpi yang bermasalah, jika kapasitas seseorang sudah melewati batas, fakta alam sadar yang terepresi kedalam mimpi tersebut, sekalipun tidak muncul kembali kedalam alam sadar (ingatan), tetap bisa menimbulkan masalah. Karena sekali lagi, ia hanya tidak tampak. Ia hanya terepresi ke alam bawah sadar, dan ia tetap ada, terlepas dari olahan fakta alam sadar dalam ‘mind and soul flow’ (saya mengistilahkan ‘mind and soul flow’ untuk hubungan kesinambungan alam sadar dan bawah sadar)manusia ini muncul ke alam sadar atau tidak. Manusia memang hanya bisa melihat secara kasat mata apa yang ada di alam sadar, tapi sesungguhnya apa yang ada di alam bawah sadar jauh lebih berpengaruh kedalam kehidupan manusia secara keseluruhan, dan pemahaman bahwa alam sadar dan bawah sadar adalah suatu sistem yang bekerja secara harmonis dan berkesinambungan, tidak terpisahkan, perlu ditanamkan.

Melihat bahwa alam bawah sadar memiliki pengaruh lebih besar dalam kehidupan manusia, sulit untuk mengatakan manakah yang lebih dominan: represi masa lalu atau naluri masa depan, terutama jika konteks casenya belum ditentukan. Namun sebagai sesuatu yang kasat mata, alam sadar tentu saja nampak sebagai sesuatu yang lebih dominan, meski sesungguhnya tidak demikian. Dan flow alam bawah sadar tetap menjadi sesuatu yang harus diwaspadai, karena sering kali manusia tidak bisa mengontrol ‘mind and soul flow’nya sendiri sehingga akhirnya ia tanpa sadar terkena personality disorder. Dan perlu dicatat pula bahwa personality disorder, termasuk psycho (fenomena yang sedang marak saat ini hingga di harian Kompas Minggu beberapa minggu lalu ada yang menulis tentang ciri-ciri psycho dan apa hubungannya dengan homosex-kaitannya dengan kasus Ryan), seringkali sulit untuk dideteksi. Hal ini disebabkan dari sisi alam sadar-dari luar- seakan sikapnya normal, wajar, bahkan berkepribadian menarik sehingga banyak orang yang tertarik. Padahal ya di dalamnya, tetap saja psycho. This is ironic and terrifying. Ini betul lho, karena saya sendiri pernah mengalami digangguin sama orang psycho, yaitu perempuan yang sekarang menjadi pacar dari mantan pacar saya. Kembali ke bahasan awal, intinya ya..betul kata Descartes: cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada). Kekuatan pikiran adalah sesuatu yang harus diwasapadai bahkan oleh si pemilik pikiran itu sendiri [kembali lagi ke hubungan kesinambungan pikiran sadar dan bawah sadar yang saling mempengaruhi sama lain secara simultan dan berkesinambungan-‘mind and soul flow’]. Dan bisa jadi, sebetulnya orang-orang yang kena personality disorder ini adalah orang yang relasi ‘mind and soul flow’ nya itu korslet, misalnya salah satu sisi terlalu dominan (FYI orang psycho tidak akan merasa bersalah atas apa yang ia lakukan, karena baginya hal itu adalah sesuatu yang wajar, atau bahkan dia sendiri tidak sadar sudah berbuat apa saja). Akhirnya, dengan berpedoman pada kata-kata Descartes, maka sayapun berkata: Life is only a mind game, but mind is not enough.

BIBLIOGRAPHY

[1] Sigmund Freud. Sekelumit Sejarah Psikoanalisa. 1983. Gramedia, Jakarta. P: 59

Sigmund Freud. Sekelumit Sejarah Psikoanalisa. Gramedia, 1983. P:63-64.

An Introduction to Psychology. P: 141.

An Introduction to Psychology. P: 133-136

Budi Hardiman. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. 2007. Gramedia, Jakarta. P: 34 -43.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s