Jehovah Witnesses : A Cautious Mass Culture Religion

I. Latar Belakang

Percaya atau tidak, segala hal yang ada di dunia ini saling berkaitan satu sama lain. Fenomena yang kita kenal dengan mass culture ternyata berkaitan dengan meletusnya perang dingin antara Rusia dengan Amerika Serikat. Isu ini kemudian mulai diperdebatkan kaum intelektual [terutama di Amerika] sekitar tahun 1950-an[1]. Mass culture atau budaya yang dianut secara luas dan yang selama ini dipercaya disebarkan oleh Amerika sebagai negara adikuasa ternyata tidak semata-mata diperkenalkan secara massif lewat media dengan tujuan komersil belaka. Semenjak renggangnya hubungan Amerika dan Rusia pasca berakhirnya perang dunia ke-II, mulai muncul pandangan yang dicetuskan oleh Andrew Ross, yaitu bahwa mass culture dalam posisi sosialnya dipandang sebagai alat kontrol sosial. [Seperti yang kita tahu bahwa ideologi yang disebarkan melalui media perlahan tapi pasti menanamkan nilai-nilai dari Barat-meski di sisi lain ada dalih bahwa mass culture merupakan produk imperialisme elektronik-namun jika ditelaah Amerika sendiri sebagai salah satu negara pemilik perusahaan multimedia raksasa memiliki andil besar dalam imperialisme elektronik-sehingga akhirnya semua hal tersebut memiliki hubungan siklik].

Intinya, bisa dikatakan bahwa Amerika Serikat, dalam posisi mencari power settlement setelah berakhirnya Perang Dunia ke-II, menyebarkan berbagai macam ideologi lewat media, yang lambat laun membudaya dan berakar ke dalam masyarakat dunia. Jika fenomena mass culture pasca perang dunia ke-II tersebut dihubungkan dengan teori sistem dunia, maka bisa kita lihat bahwa Amerika Serikat merupakan negara core yang akan menyebarkan nilai-nilainya ke negara dunia ketiga, termasuk diantaranya Indonesia[2]. Maka tidak heran jika dalam waktu singkat, berbagai macam nilai Barat, tak terkecuali agama-agama baru, masuk ke Indonesia melalui terpaan media, dan berkembang pula dengan peran media.

Seperti yang sudah dibahas diatas, karena budaya Barat masuk dengan gencar ke negara-negara lain di seluruh penjuru bumi, tidak heran jika pada masa sekarang sudah banyak terjadi bentuk pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat, termasuk diantaranya nilai-nilai budaya. Dan dengan adanya pergeseran nilai budaya, nilai agama sebagai salah satu bagian dari budaya lambat laun juga akan bergeser. Beberapa tahun terakhir banyak sekali tumbuh berkembang sekte-sekte baru yang berakar dari agama konservatif, termasuk diantaranya Scientology yang dicetuskan oleh Ron Hubbard dan Jehovah Witnesses yang berasal dari ide Pastor Charles Russel.

II. Jehovah Witnesses: Agama Kristiani Baru?

Jehovah Witnesses atau yang juga dikenal dengan Saksi Yehovah bukanlah agama baru. Sekitar 50 tahun setelah kematian Yohanes penginjil, muncul seorang bernama Marcion yang menyatakan bahwa Perjanjian Lama harus ditolak dari ajaran Kristiani[3]. Ajaran ini kemudian berkembang menjadi Marcionism dan kelompok ini percaya bahwa Perjanjian Lama akan hilang dari ajaran agama Kristiani bersamaan dengan tumbuhnya popular culture. Para pengikut Jehovah Witnesses disini kemudian menganggap dirinya memiliki peran penting sebagai sosok yang bersaksi dan membuktikan bahwa Perjanjian Lama bukanlah sesuatu seperti textbook yang bisa digantikan begitu saja.

Jehovah Witnesses ditemukan pada tahun 1872 di Pennsylvania, Amerika Serikat oleh Pastor Anglikan, Charles Taze Russell[4], dan sekarang berpusat di New York. Kata Jehovah sendiri secara harafiah berarti ‘Ia menyebabkan menjadi’, atau bisa diartikan ‘Tuhan’. Maka Jehovah Witnesses bias diartikan sebagai ‘para saksi Allah.’ Ajaran Jehovah Witnesses merupakan ajaran yang tumbuh secara terpisah dari agama Kristiani, dan dalam setiap sistem ajarannya, banyak memberikan kutipan-kutipan dari Injil yang seringkali ditafsirkan secara berbeda. Kitab suci yang digunakan juga berbeda dengan yang dimiliki pengikut Katolik atau Kristen. Meskipun isinya hampir sama, namun kitab suci yang dimiliki pengikut Jehovah dilengkapi footnote yang menafsirkan setiap arti Injil tersebut sehingga proses pengajarannya lebih terarah. Dengan kata lain, mindset para pengikutnya sejak awal perlahan-lahan dibentuk sedemikian rupa sehingga taat pada setiap ajaran.

Berbeda dengan Scientology yang sedari awal menawarkan berbagai macam solusi [konseling, seminar, konsultasi, dsb] bagi mereka yang memiliki permasalahan apapun, Jehovah Witnesses sedari awal seolah berupaya membuktikan pada pengikut/ calon pengikutnya bahwa kedatangan Yesus yang tidak nampak akan segera tiba dan semua umat selayaknya menyebarkan kesaksian ini sebagai sebuah perbuatan baik yang disukai oleh Jehovah [Tuhan].

Dasar ajaran yang digunakan adalah bahwa Jehovah, sebagai pencipta yang sempurna menginginkan pengabdian manusia yang seutuhnya. Dalam official site-nya juga diberikan contoh dari kisah Adam dan Hawa, bahwa mereka yang tidak taat atau melanggar perintah-Nya akan jatuh ke dalam sengsara. Dengan mengatakan bahwa ‘Tuhan menyukai mereka yang berbuat baik dan membenci mereka yang berbuat tidak baik’ maka akan lebih mudah untuk membentuk mindset para pengikutnya, apalagi dideskripsikan dengan jelas apa itu perbuatan baik dan tidak baik, dan tiap pernyataan pun didukung dengan kutipan dari Injil yang ditafsirkan dengan cara tersendiri.

Para pengikut Jehovah menyebarkan ajarannya dan melakukan proses persuasi dengan pendekatan individual, yaitu dengan memperkenalkan diri secara per orangan kemudian mengajak diskusi Alkitab bersama. Seringkali mereka juga mencegat orang yang mereka temui di tengah jalan dengan tujuan yang sama. Dan jika seseorang sudah memberikan kontak berupa nomor telepon atau alamat, biasanya ia akan terus-menerus didatangi pengikut Jehovah. Saya sendiri pernah mengalami diajak bible discussion bersama seorang pengikut Jehovah Witnesses sewaktu saya masih mengikuti exchange program di Taiwan semester lalu.

III. Ajaran yang Menyimpang dari Kristiani

Meskipun berakar dari ajaran Kristiani, namun ada banyak tradisi dan ajaran Kristiani yang ditolak oleh Jehovah Witnesses. Contoh ajaran Jehovah Witnesses adalah pengikut Tuhan haruslah bersih. Hal ini dapat dilakukan dengan[5]:

1. Allah Jehovah bersih dan suci. Ia ingin semua pengikutnya tetap bersih-secara spiritual, mental, moral dan fisik. Perlu usaha keras untuk tetap menjadi pengikut Tuhan yang setia.

2. Pelayan Jehovah tidak boleh mengikuti ajaran yang salah, ataupun mendukungnya dalam bentuk apapun, karena Tuhan mengetahui segala kesalahan yang kita perbuat.

3. Tuhan ingin kita berlaku sebagai umat Kristiani sejati sepanjang waktu. Kita haruslah menghindari segala perbuatan imoril dan segala perbuatan buruk lainnya yang ada di dunia.

4. Pikuran pengikut Jehovah haruslah bersih, pikiran yang bersih, dan segala perbuatan kita pun akan bersih. Tapi jika kita melakukan hal yang tidak bersih, maka hasilnya pun akan buruk. Kita bisa memenuhi pikiran kita dengan segala hal yang dikatakan Tuhan.

5. Pengikut Jehovah haruslah mereka yang menjaga kebersihan fisiknya.

6. Pengikut Tuhan harus selalu berkata jujur. Pembohong tidak akan masuk Kerajaan Surga. Umat Kristiani tidak menggunakan bahasa yang buruk. Mereka juga tidak mendengarkan segala sesuatu yang buruk seperti lelucon jorok atau cerita yang tidak ‘bersih’.

Ajaran yang dipercaya dibenci oleh Tuhan bagi pengikut Jehovah adalah[6]:

  1. Pelayan Tuhan haruslah menyukai apa yang baik dan membenci apa yang buruk. [Leviticus 18:6; Roma 1:26,27; Korintus 6: 9,10].
  2. Seks bebas, incest, homoseksualitas, dsb adalah hal-hal yang merupakan dosa besar dimata Tuhan.
  3. Tuhan membenci pembohong, penjudi dan pencuri.
  4. Kemarahan yang tidak terkendali bisa menyebabkan kekerasan. Orang yang berbuat kekerasan tidak bisa menjadi teman Tuhan.
  5. Banyak yang menggunakan mantera untuk menyembuhkan orang sakit. Tapi dibalik praktek tersebut ada Iblis, dan umat Kristiani tidak boleh ambil bagian dalam hal ini.
  6. Pengikut Tuhan tidak dilarang untuk minum alkohol, tetapi mabuk-mabukan adalah perbuatan yang salah di mata Tuhan.
  7. Orang yang mempelajari apa yang dikatakan Tuhan sebagai hal yang buruk tidak akan mewarisi Kerajaan Allah.

Para pengikut Jehovah percaya bahwa ada banyak tradisi yang salah dalam agama Kristiani, salah satunya adalah perayaan Natal. Menurut mereka Yesus tidak dilahirkan tanggal 25 Desember, melainkan tanggal 1 Oktober. Bagi mereka janggal bahwa Mereka juga percaya bahwa Yesus tidak pernah berpesan untuk merayakan hari kelahirannya, melainkan hari kematiannya. Kepercayaan yang dianggap salah oleh Allah bagi pengikut Jehovah Witnesses diantaranya adalah[7]:

1. Tidak semua kepercayaan yang salah itu buruk. Namun Tuhan tidak menyukai hal-hal yang berasal dari ajaran yang salah atau tidak sesuai ajaran Alkitab. [Matius 15:6]

2. Trinitas atau Tri Tunggal Maha Kudus itu tidak ada, yang ada hanya Allah yang tunggal, satu-satunya Tuhan yang nyata. Yesus adalah anak yang posisinya inferior dibandingkan Bapa-Nya dan Roh Kudus adalah bagian dari pendamping Tuhan.

3. Yesus tidak dilahirkan tanggal 25 Desember, melainkan 1 Oktober, saat para gembala berjaga malam. Paskah juga merupakan tradisi yang salah, yang tidak seharusnya dirayakan dengan telur dan kelinci.

4. Dua ulang tahun yang dirayakan umat Kristiani diajarkan oleh orang yang bukan pengikut Tuhan. Umat Kristiani zaman dahulu tidak merayakan ulang tahun, tradisi tersebut berasal dari ajaran kuno yang salah. Umat Kristiani sejati memberikan hadiah dan menikmati waktu bersama dalam waktu yang lain sepanjang tahun.

5. Segala macam ajaran untuk takut pada roh yang sudah mati adalah salah. Mereka tidak bisa merasakan atau berbuat apapun pada kita.

6. Yesus tidak mati disalib. Ia mati di sebuah tiang. Kata yang diterjemahkan oleh Alkitab sebagai salib hanyalah sepotong kayu belaka. Simbol salib muncul dari ajaran kuno yang salah.

7. Mungkin sulit untuk meninggalkan ajaran konserfatif yang telah diajarkan turun-temurun, namun menyenangkan Tuhan jauh lebih penting daripada menyenangkan manusia [Matius 10: 36-37].

IV. Analisis

Bisa dilihat bahwa pengikut Jehovah percaya bahwa sesungguhnya mereka adalah saksi Allah yang sesungguhnya, dan merekalah umat Kristiani sejati. Sehingga bisa disimpulkan bahwa mereka juga beranggapan bahwa apa yang selama ini diajarkan dalam Katolik dan Kristen, termasuk sebagian tradisinya adalah ajaran yang salah. Dengan menyatakan demikian, maka sesungguhnya sekte ini adalah sebuah ajaran yang kontradiktif, karena adanya fakta bahwa meski Jehovah Witnesses memiliki tafsir Alkitab berbeda, namun ajaran mereka tetaplah berakar pada ajaran Kristen dan Katolik konvensional dan mereka juga mengajarkan tradisi baptis. Namun di sisi lain ia mengklaim bahwa ialah ajaran Kristiani sejati, yang harus dipatuhi jika ingin menjadi hamba Allah yang sesungguhnya, dan bahwa ada banyak ajaran Kristiani konvensional yang merupakan tradisi kuno yang salah belaka.

Cara demikian adalah sebuah daya yang menurut saya cukup cerdas, karena ia berlindung pada kekuatan tradisional yang sudah mengakar kuat pada masyarakat, yaitu agama konvensional. Namun di sisi lain ia juga berdalih bahwa ia hanya berusaha untuk ‘memperbaiki tradisi yang salah’ dan melanjutkan apa yang juga diajarkan agama Kristiani konvensional, yaitu mewartakan kedatangan Kerajaan Allah, meskipun dilakukan dengan cara yang berbeda atau bahkan bertentangan di beberapa bagian. Namun cara ini cukup efektif untuk berdalih dari kritik dan kontroversi yang timbul, sekaligus berlindung di balik nama besar agama Kristiani dan yang terpenting, tetap melakukan penyebaran ajarannya sendiri.

Ajaran Jehovah mengatakan bahwa kita harus ‘melakukan apa yang benar dan menghindari apa yang salah’ dan di sisi lain mereka juga mengajarkan dan mendeskripsikan dengan cukup detil apa itu yang benar dan salah-bisa dikatakan adalah sebuah upaya lain untuk membentuk mindset kita, atau bahkan bisa diklaim sebagai sebuah bentuk cuci otak, karena segala yang kita percaya-mindset kita- tentang apa yang benar dan salah diatur ulang sedemikian rupa sehingga kita seolah menjadi sebuah kertas putih yang siap ditulisi apa saja. Karena perintah mereka adalah ‘kita harus melakukan apa yang diinginkan Tuhan’. Bisa dilihat bahwa ini adalah sebuah upaya untuk mengkotak-kotak ulang cara berpikir/mindset manusia untuk mengikuti segala hal yang dideskripsikan sebagai ‘benar’ dan ‘salah’ sementara di sisi lain para atasan Jehovah Witnesses dan pencetusnya sendiri lah yang menentukan apa yang dideskripsikan sebagai apa yang ‘benar’ dan ‘salah’ tersebut. Maka dengan sistem ajaran yang demikian, akan sangat mudah bagi para pemuka agama dan atasan Jehovah Witnesses untuk menyetir pengikutnya.

Dan jika yang menuliskan semua ketentuan yang harus dipatuhi pengikutnya adalah pemuka agama/petinggi-petinggi Jehovah sendiri yang sama-sama manusia [kemungkinan Pastor Charles Russell sang pencetus Jehovah] tak akan ada jaminan bahwa ia benar-benar seorang yang ‘diutus oleh Tuhan’ untuk mewartakan kedatangannya yang tidak nampak. Sehingga pada akhirnya kita pun sampai pada kesimpulan, sekte ini hanyalah sebuah upaya untuk menyetir mindset manusia secara massal. Bisa dilihat bahwa hal ini merupakan fenomena yang umum terjadi pada zaman sekarang. Contoh lainnya adalah Scientology dan Neuro Linguistic Program.

Kemudian, jika dihubungkan dengan apa yang kita bicarakan di awal pada latar belakang mengenai mass culture sebagai sebuah alat politik, bisa jadi Jehovah Witnesses hanyalah sebuah upaya untuk meraih dan menjaring umat sehingga tersistematisasi dalam sebuah organisasi yang mudah disetir-dan bukan tidak mungkin untuk sebuah tujuan politis. Realistis saja, dalam setiap agama sekalipun pasti ada intrik politis. Dan agama itu sendiri pun belum tentu murni sebuah organisasi yang dibangun hanya demi tujuan religius semata.

V. Kesimpulan

Sebagai pelajar kita haruslah kritis terhadap berbagai macam informasi dan ideologi yang kita terima. Kita tidak bisa begitu saja menelan mentah-mentah apa yang kita dengar atau pelajari, sekalipun hal tersebut terdengar masuk akal. Meskipun dalam hal ini kita sedang membicarakan kasus religius, tapi apa yang saya maksud tidak berhubungan dengan apa yang dimaksud sebagai ‘iman’. Karena yang terpenting adalah, kita bisa bersikap kritis dan hati-hati. Saya yang seorang umat Kristiani misalnya, tidak bisa begitu saja percaya bahwa ternyata apa yang diajarkan kepada saya selama ini hanyalah tradisi kuno yang salah belaka. Ini juga tidak berkaitan dengan fakta bahwa manusia takut terhadap perubahan. Yang disebut dengan realita mengenai apa yang benar dan salah memang seringkali nampak kabur dan tidak pasti. Memang mass culture, termasuk di antaranya agama, merupakan sesuatu yang seringkali kita terima kedalam mindset kita tanpa kita sadari. Namun justru disitulah kita harus bisa tegas dengan berpikir kritis dan menganalisis segala sesuatunya. Karena realistis saja, sebagai pelajar hanya itu yang bisa kita lakukan, setidaknya untuk saat ini. Namun perlu diingat juga bahwa perubahan harus dimulai dari hal yang minor.

BIBLIOGRAPHY


 

[1] John Storey. An Introductionary Guide to Cultural Theory and Popular Culture. Harvester Wheatsheaf: England. 1993. P: 33-34.

[2] Thomas McPhail. Global Communication: Theories, Stakeholders and Trends, 2nd ed. Blackwell Publishing. P: 24-34.

[4] Encyclopedia Britannica

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s