Paradoks Homoseksual dalam Seksualitas Modern : Sebuah Perdebatan Feminis dan Promiskuitas Postfeminis

Norma adalah alat yang digunakan oknum mainstream, penguasa, untuk kepentingan-kepentingan yang menguntungkan pihaknya, menjustifikasi segala perbuatan yang mengakomodasi kepentingannya tersebut, terutama untuk mengabsolutkan kuasa. Foucoult bicara mengenai sejarah represi seksualitas pada zaman Victorian, dimana seksualitas dibungkam. Pada zaman itu seks hanya disahkan untuk berada dalam ranah keluarga, yaitu suami istri, dan hanya disakralkan pada kamar orang tua. Selebihnya adalah tabu. Berawal dari pandangan Foucoult tadi, kita perlu melihat bahwa sebenarnya segala norma yang diterapkan hanyalah sistem buatan manusia yang cacat namun diabsolutkan, kemudian digunakan untuk menata segala sistem struktur yang mengatur kehidupan manusia tapi ironisnya, menjadi tembok paling tebal untuk perkembangan mindset manusia itu sendiri. Pergerakan pemikiran yang bebas adalah pemikiran-pemikiran yang masih berada dalam batas tembok tebal yang membelenggu itu. Continue reading

Superioritas Amerika dan Konstruksi Negatif Perempuan dalam Film Tinkerbell: a False Conciousness Process

Ketika orang bicara soal Disney, mereka bicara mengenai betapa banyaknya kritik dan penelitian yang sudah dilakukan tentang Disney, betapa mengagumkan karya-karya baru Disney seperti High School Musical dan Bolt, atau betapa enchanting-nya kisah-kisah klasik Disney. Ada juga yang bicara betapa beberapa tokoh seperti Mulan memberikan inspirasi bagi banyak orang, kecanggihan teknik animasi Pixar yang membuat Woody [Toy Story] nampak begitu nyata, bahkan betapa catchy-nya lagu-lagu soundtrack film Disney di telinga. Segala elemen diatas, baik yang diperhitungkan sebagai yang mayor atau minor, telah banyak diriset oleh para ahli seperti Janet Wasko, Margaret Ronnberg, Nikhilesh Dholakia dan Armand Matellart. Karya-karya mereka, baik jurnal, buku maupun karya lainnya telah memberikan kontribusi besar terhadap kekayaan pengetahuan kita dan awam terhadap Disney dan segala bentuk produknya. Misalnya dalam jurnal Disney: Delights and Doubts yang dipublikasikan tahun 2001 oleh Journal Research for Consumer [1], tulisan ini bicara mengenai efek hiperimajinasi yang timbul dalam benak pengunjung Disneyland. Sementara Margaret Ronnberg dalam jurnalnya membicarakan efek kisah Disney terhadap faktor psikologis anak dari sudut pandang anak-anak [2]. Continue reading

The Quote I Like and Things That I Hate

Salah satu quote yang saya suka adalah “Don’t judge the book by it’s cover.” Pasaran banget, memang. Tapi ngena banget di aku. Waktu pertama kali orang lihat saya, mereka seringkali memuji atau meremehkan sekaligus. Kalau memuji, mereka biasanya bilang “Wah, udah kuliah masih imut-imut ya, kayak anak SMA” atau “Wah, anaknya Pak Maryatmo cantik ya.” Saya sih biasanya cuma senyum simpul, formalitas. Karena saya sudah tau buntut pujian ini biasanya nggak mengenakkan di saya. Bukan mau negative thinking, tapi hal ini sudah cukup sering terjadi: diremehkan karena status saya sebagai perempuan yang badannya kecil dan muka childish, atau karena status saya yang notabene anaknya dosen. Continue reading