The Quote I Like and Things That I Hate

Salah satu quote yang saya suka adalah “Don’t judge the book by it’s cover.” Pasaran banget, memang. Tapi ngena banget di aku. Waktu pertama kali orang lihat saya, mereka seringkali memuji atau meremehkan sekaligus. Kalau memuji, mereka biasanya bilang “Wah, udah kuliah masih imut-imut ya, kayak anak SMA” atau “Wah, anaknya Pak Maryatmo cantik ya.” Saya sih biasanya cuma senyum simpul, formalitas. Karena saya sudah tau buntut pujian ini biasanya nggak mengenakkan di saya. Bukan mau negative thinking, tapi hal ini sudah cukup sering terjadi: diremehkan karena status saya sebagai perempuan yang badannya kecil dan muka childish, atau karena status saya yang notabene anaknya dosen.

– Waktu semester lima saya jadi asdos mata kuliah MPK I di kelas Bu Yudi. Pagi itu saya ke kampus untuk mendampingi anak-anak di kelas. Salah seorang junior [laki-laki] yang mengambil kuliah MPK kelas sebelah, menyapa saya,

“Kuliah apa, dith?”

“MPK.”

“Kamu belum ambil MPK toh?”

“Udah kok.”

“Lah terus, kamu ngulang?”

“Enggak.”

“Hah? Terus kamu ngapain??”

“Aku asdosnya.”

“Hah!? Kamu asdos!??”

Menyebalkan sekali buat saya kenapa anak-anak junior itu mengira saya senior yang mengulang kelas MPK dan nyaris tidak ada yang berpikiran bahwa saya ini asdosnya. Dan yang menyapa saya tadi itu bukan satu-satunya. Cuma karena saya badannya kecil, imut-imut dan peduli fashion bukan berarti saya perempuan bodoh. Dan waktu itu kadang saya suka sebel waktu melihat pandangan heran anak-anak MPK kelas sebelah waktu melihat saya lewat membawa kunci kelas, presensi dan fotokopian bahan sementara ada beberapa yang berbisik dengan wajah heran, “Hah? Itu asdos toh!?”

– Dulu waktu awal kuliah dan ada beberapa teman yang tahu saya anaknya dosen, mereka lalu berkomentar “Pantesan pinter, anaknya dosen.” Membosankan sekali selalu dihubungkan dengan profesi orang tua. Dan bukan hanya beberapa teman saya yang berkomentar demikian, tapi teman-teman orang tua saya juga sami mawon. Anaknya dosen yang goblok, Cuma bisa dandan dan maen kesana-kemari banyak kok. Tapi anaknya petani dan tukang parkir yang pinter juga banyak.

– Beberapa semester pertama, tukang parkir yang lama selalu memanggil saya “Anaknya Pak Maryatmo.” Mungkin bapak tukang parkirnya lupa kalau saya pribadi tersendiri yang juga punya nama.

– Waktu salah seorang teman mama saya tahu saya mendapat beasiswa ke Taiwan, dia langsung berkomentar “Oya, pantesan dapet beasiswa. Kan bapaknya dekan FE.” Saya langsung naik pitam. Kalau saya ada di tempat sudah saya omelin itu tante-tante…Saya mendapat beasiswa atas usaha saya sendiri, bukan karena KKN. Belum sempat saya ngomel, mama saya lalu lanjut bercerita kalau si tante itu bilang lagi, “Wah, saya pengen anak saya juga dapat scholarship.” Saya langsung ketawa sinis. Aduh tante, kalo sirik bilang aja deh…Nggak usah sembarangan ngomong…

– Suatu hari mama saya mendapat voucher Gramedia dengan nominal cukup besar. Maka dengan alasan sudah membantu mama, saya diizinkan ikut menghabiskan voucher tersebut. Sesampai di toko buku saya langsung ke section buku cultural studies dan filsafat. Disitu ada dua laki-laki tidak dikenal yang terus mengamati saya, tapi saya diam saja. Saya tidak mendengar mereka banyak berkomentar hingga mereka melihat buku-buku yang saya pilih. Buat saya ekspresi mereka tidak menyenangkan, karena menunjukkan mimik orang yang sangat heran, mungkin bingung kenapa perempuan bertubuh kecil seperti saya mau membaca buku teori sosial kritis dan buku filsafat karya dosen Driyarkara. Dan setelah itu saya sempat mendengar mereka berkomentar, “Waduh, cewek kok bacaannya ngeri ya?” Saya lalu memandangi mereka dengan sinis.

Ok, cukup sampai disini dulu omelan saya. Itu tadi tentang hal-hal yang saya benci. Suatu hari saya browsing internet, iseng mencari blog para pelajar tentang psikologi atau filsafat dan saya menemukan sebuah blog milik pelajar di Eropa [atau Amerika, saya lupa], yang featured post-nya menarik: palmtreeprojection. Ia bicara mengenai quote yang diambil dari ajaran Plato: “Knowledge is a power, but ignorance is a bliss.” Memang benar, memiliki pengetahuan adalah sebuah kekuatan besar, meski Socrates juga bilang “Semakin aku tahu, semakin aku tahu bahwa aku tidak tahu.”

Intinya tulisan si pelajar Eropa itu bicara mengenai pengalaman hidupnya sebagai orang yang memiliki pemikiran di luar mainstream dan sering bertentangan dengan orang banyak sehingga menimbulkan masalah, sehingga ia mengakui, benar adanya kata-kata “ignorance is a bliss.” Hal yang sama terjadi pada saya. Kenyataan bahwa saya adalah seorang agnostic-theis padahal papa saya seorang ex-seminari, dan kenyataan bahwa saya lebih memilih untuk memakai family name Chen daripada Maryatmo merupakan hal yang tidak bisa diterima keluarga saya. Dan secara sah di akte nama saya tidak menggunakan nama keluarga. Kenapa pula saya harus selalu mengikuti sistem patriarkal untuk mengikuti nama papa? Karena bagi saya tidak masuk akal kalau saya harus mengikuti segala aturan dan norma hanya dengan alasan “Because the culture said so.” Nonsense. Bagi saya, ini sama saja mendengarkan para feminis, anti-feminis dan posfeminis berdebat. Semuanya benar namun tidak benar di saat bersamaan.

Tadi siang teman baik saya yang kuliah di Swiss Germany University menelepon saya dan kami kemudian membicarakan hal yang kurang lebih sama: betapa orang-orang suka berpikiran sempit dan seenaknya memaksa orang lain mengikuti mainstream “hidup mereka”. They forget everyone had their own lives, even if they were father and daughter or mother and son. Dan ini semua membuat saya dan teman baik saya malas berdomisili di Indonesia. Ya sudahlah, setidaknya sementara saya masih terjebak disini, lebih baik saya berpegang pada kata-kata “Knowledge is a power but ignorance is a bliss.”

Advertisements

4 thoughts on “The Quote I Like and Things That I Hate

  1. Judith Chen says:

    halo πŸ™‚ terima kasih untuk replynya^^

    saia ikut idealisme saia sendiri, tapi tentu saja, berusaha melihat fenomena mainstream dan inferior yang sedang terjadi. basicly saia senang mengamati πŸ˜€ tergantung situasi, terkadang saia juga memilih jalan abu-abu..^^

  2. Judith Chen says:

    begitulah, jawaban yang membuat orang mengira2 sendiri saia ini seperti apa, hehe :p terima kasih, sukses juga utk anda^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s