Superioritas Amerika dan Konstruksi Negatif Perempuan dalam Film Tinkerbell: a False Conciousness Process

Ketika orang bicara soal Disney, mereka bicara mengenai betapa banyaknya kritik dan penelitian yang sudah dilakukan tentang Disney, betapa mengagumkan karya-karya baru Disney seperti High School Musical dan Bolt, atau betapa enchanting-nya kisah-kisah klasik Disney. Ada juga yang bicara betapa beberapa tokoh seperti Mulan memberikan inspirasi bagi banyak orang, kecanggihan teknik animasi Pixar yang membuat Woody [Toy Story] nampak begitu nyata, bahkan betapa catchy-nya lagu-lagu soundtrack film Disney di telinga. Segala elemen diatas, baik yang diperhitungkan sebagai yang mayor atau minor, telah banyak diriset oleh para ahli seperti Janet Wasko, Margaret Ronnberg, Nikhilesh Dholakia dan Armand Matellart. Karya-karya mereka, baik jurnal, buku maupun karya lainnya telah memberikan kontribusi besar terhadap kekayaan pengetahuan kita dan awam terhadap Disney dan segala bentuk produknya. Misalnya dalam jurnal Disney: Delights and Doubts yang dipublikasikan tahun 2001 oleh Journal Research for Consumer [1], tulisan ini bicara mengenai efek hiperimajinasi yang timbul dalam benak pengunjung Disneyland. Sementara Margaret Ronnberg dalam jurnalnya membicarakan efek kisah Disney terhadap faktor psikologis anak dari sudut pandang anak-anak [2].

Namun betapapun banyaknya riset dan tulisan yang dibuat mengenai Disney, semua itu nampaknya tidaklah cukup karena kita bisa melihat sendiri betapa cepatnya film dan produk Disney lainnya sekarang ini diproduksi. Belum lagi saya selesai menonton Tinkerbell, saya sudah melihat daftar cukup panjang film Disney yang rilis, seperti High School Musical 3, kemudian menyusul Beverly Hills Chihuahua dan yang terakhir, Bolt. Ini baru dari section film, belum produk-produk lain seperti program TV, lagu [yang sebetulnya juga disertakan sebagai soundtrack film produksi Disney sendiri sebagai teknik pemasaran yang cerdik], hiburan-hiburan di Disneyland, berbagai merchandise, dll. Hal ini juga berarti memang nyaris tidak mungkin untuk memonitor dan mengkritik seluruh produk Disney. Dan dengan pertimbangan tersebut, saya memilih untuk meneliti salah satu saja film Disney, yaitu Tinkerbell.

Dikatakan bahwa yang memiliki kekhasan film Disney terutama adalah kisah-kisah klasik Disney:  serial Mickey Mouse dan Donald Duck, Mulan, The Little Mermaid, Aristocats, Beauty and The Beast, Cinderella, Snow White, dsb. Namun di sisi lain ada dilema yang muncul ketika melihat fakta bahwa rata-rata yang dikategorikan sebagai film klasik Disney adalah film-film yang diproduksi beberapa tahun silam dan selintas seolah film-film tersebut sebetulnya ‘masanya sudah lewat namun tetap dikenang’ – hal ini juga ada kaitannya dengan efek nostalgia Disney yang nanti juga akan dibahas dalam tulisan ini. Sementara itu, kita sendiri juga tahu bahwa film baru produk Disney jumlahnya sudah sangat banyak, dan terlalu sibuk meneliti film yang lama bisa juga berarti tidak melihat ada perkembangan apa dalam produk baru Disney, meskipun produk Disney juga merupakan produk popular culture, yang artinya ia hanya merupakan kombinasi kreatif formula-formula pop yang sudah ada [3].

Salah satu film Disney yang baru rilis dan populer adalah Tinkerbell, yang merupakan kisah yang diambil dari kisah klasik terdahulu, Peter Pan. Figur Tinkerbell digambarkan sebagai peri anak-anak bertubuh mungil dengan gaun hijau, rambut pirang yang disanggul, dan mengeluarkan suara gemerincing ketika ia terbang. Belakangan tokoh Tinkerbell menjadi figur yang lebih populer daripada Peter Pan, terutama di kalangan anak perempuan. Sekitar akhir tahun 2008, film animasi Tinkerbell diluncurkan, setelah beberapa waktu sebelumnya Disney terlebih dulu mempopulerkan kembali Tinkerbell melalui buku cerita serial bergambar. Rencananya film ini juga akan dibuat beberapa seri sesuai dengan buku ceritanya, namun seri kedua baru akan dirilis tahun 2009 mendatang. Hal ini berhubungan dengan tudingan Margareta Ronnberg bahwa ini adalah salah satu strategi pemasaran ‘mengerikan’ [karena dianggap sebagai pemerasan terhadap anak-anak] yang dilakukan oleh Disney untuk meluncurkan satu premier film setiap tahun [4].

Bagi saya menarik untuk meneliti film Tinkerbell, karena Tinkerbell merupakan bagian dari kisah klasik Disney yaitu Peter Pan, yang diklaim memiliki kekhasan ‘format klasik Disney’ namun di sisi lain, Tinkerbell juga memiliki keunggulan sebagai film yang baru rilis sehingga kita juga bisa melihat dan mengkaji produk baru Disney, serta melihat nilai-nilai ideologi Amerika seperti apa yang dibawa di dalamnya.

Intinya, tulisan ini berusaha mencari tahu bagaimana proses sebuah kisah klasik Disney seperti Tinkerbell menanamkan false conciousness ke dalam mindset anak-anak. Sementara itu false conciusness ini juga memiliki dua faktor, yaitu superioritas Amerika sebagai faktor mayor dan konstruksi negatif perempuan sebagai faktor minor. Dikatakan konstruksi negatif perempuan adalah faktor minor karena ia seolah tidak sengaja ‘terbawa’ dalam partikel penanaman nilai superioritas Amerika, namun menjadi sebuah nilai yang perlu mendapat concern tersendiri. Sebelum masuk ke faktor mayor, kita akan membicarakan bentuk keidentikan image Disney sebagai aparatus ideologi, dengan melihat secara historis proses brand imaging Disney yang sangat khas, terutama dalam kasus kisah klasik Disney: bagaimana film-film Disney seolah dijaga dan dibentuk oleh brand imaging tersebut untuk tetap memiliki tradisi mendiaspora ideologi. Kemudian superioritas Amerika sebagai faktor mayor akan dibahas dengan mengamati alur dan penokohan dalam film Tinkerbell, untuk melihat fake democracy didalamnya yang bicara mengenai: Pertama, sentimen terhadap Inggris,  kedua, pengukuhan posisi Amerika yang diilustrasikan sebagai negara superior yang memiliki peran penting bagi dunia. Masuk ke faktor minor, kita akan membahas tokoh Tinkerbell dari kasus perdebatan mengenai siapa sesungguhnya live figure Tinkerbell: Marilyn Monroe atau Margaret Kerry, dengan pembahasan yang di breakdown dalam dua point kepuasan visual: scopophilia ganda dan efek narsisme. Dengan keseluruhan pembahasan tersebut,  kita akan melihat proses pembentukan false conciusness pada anak-anak [terutama anak perempuan] secara keseluruhan dari tulisan ini.

Disney: Identik dengan Image Aparatus Ideologi

Film, sebagai sebuah bagian dari media, ternyata bukan hanya menjadi media hiburan semata, tapi juga penyebaran ideologi. Banyak negara core seperti Amerika yang menggunakan film, bahkan film kartun, sebagai sarana penyebaran ideologi negaranya, terutama ideologi superioritas negara bersangkutan. Film-film ini dibuat oleh korporasi multimedia raksasa yang otomatis membuat badan tersebut menjadi salah satu bagian dari agen yang berperan dalam penyebaran ideologi. Hal ini sesuai dengan pendapat Althusser yang mengatakan bahwa media adalah aparat ideologi dalam penjelasannya mengenai mass culture Amerika sebagai perdebatan pasca perang [5].

Salah satu dari korporasi multimedia raksasa yang menjadi aparat ideologi tersebut adalah Disney Corp. Walt Disney adalah penemu sekaligus pemilik Disney corporation. Ia jugalah yang pertama kali menemukan film animasi bergambar yang kita kenal sebagai film kartun, pada tahun 1923. Film pertama Waltz adalah Alice in Wonderland, yang merupakan film animasi yang dibuat Waltz sebagai sebuah bentuk propaganda film kartun [6]. Perlu diperjelas bahwa pada masa itu film kartun belum ada, dan jelas tidak diputar di bioskop, TV atau di mana pun. Budaya masyarakat, terutama anak-anak sebagai sasaran audience, sama sekali baru terhadap kartun. Dengan kata lain, bisa diartikan bahwa dengan menayangkan Alice in Wonderland sebagai sebuah ‘perkenalan’, Walt sekaligus menciptakan sebuah milestone bagi film kartun yang di masa yang akan datang akan menjadi bagian dari popular culture. Dan saya rasa memang itu tujuan utamanya.

Faktanya memang Alice in Wonderland diciptakan khusus oleh Walt untuk memperkenalkan film kartun kepada masyarakat, dan semenjak itu sedikit-demi sedikit tradisi Disney untuk menciptakan film sebagai propaganda mulai menguat. Sekitar tahun 1942 Disney menerima pesanan dari the State Department Amerika untuk membuat film Mickey Mouse, yang berjudul Saludos Amigos dan The Three Caballeros sebagai sebuah bentuk propaganda perang dunia ke-II [7]. Hal ini semakin mengidentikkan Disney sebagai korporasi media yang menggunakan film-filmnya untuk propaganda dan penyebaran ideologi.

Di sisi lain, pengidentikan ini juga diperkuat dengan fakta bahwa Disney secara ketat menjaga tradisi dan metode-metode lain yang digunakannya dalam pembuatan kartun, dan yang berkaitan dengan brand imaging Disney. Segala sesuatu yang diciptakan Disney, dari kartun sampai image Disneyland harus dilakukan dengan ‘cara Disney’. Karena itu semua pegawai Disney, terutama mereka yang berperan dalam pembuatan film Disney, ditraining khusus oleh Walt Disney dan Roy Disney [8]. Hal ini juga terbukti dengan gagalnya Disney memasuki Perancis saat awal dibukanya Disneyland Paris, karena segala sesuatu yang ada didalamnya ‘terlalu Amerika’ sementara penduduk Perancis, sebagaimana masyarakat Eropa pada umumnya, adalah tipikal masyarakat yang kuat dalam menjaga tradisi budayanya.

Sepintas kita mungkin tidak melihat di mana letak kesalahan besar jika Disney adalah sebuah perusahaan multimedia raksasa yang merupakan sumber hiburan masyarakat, sekalipun ia notabene adalah aparatus ideologi Amerika. Yang penting anak-anak terhibur, orangtua senang, dan seberapa banyak orang yang mungkin menyadari efek jangka panjangnya? Memangnya seburuk apa efek yang bisa dilakukan sebuah film kartun yang penuh mimpi indah dan menghibur itu?

Tapi sayangnya duduk permasalahannya tidak sesederhana itu. Seperti yang sudah kita bahas di atas, Disney menawarkan ‘mimpi’ bukan hanya kepada anak-anak namun kepada orang dewasa, sehingga segala macam nilai yang dibawa dalam setiap filmnya seolah dijustifikasi sebagai ‘realitas yang dibawa kedalam film yang indah.’ Margareta Ronnberg dalam jurnalnya menjelaskan mengenai efek nostalgia Disney [9].  Seperti yang kita tahu, film Disney telah diproduksi dari masa ke masa, sejak tahun 1920an saat era Alice in Wonderland pertama ditayangkan, Steamboat Willie, kisah klasik putri-putri kerajaan seperti Cinderella, Snow White dan Sleeping Beauty, A Bug’s Life, Madagascar, film semi-animasi dengan teknik khusus seperti Flubber, hingga film nonanimasi yang kini sedang populer, High School Musical. Ini juga berarti dari zaman nenek dan kakek kita masih kecil  hingga era kita sekarang ini dan seterusnya, produk-produk dan formula Disney akan terus diproduksi dan direproduksi. Tentu saja, ini membuat film-film Disney menjadi memori masa kecil yang indah bagi setiap generasi. Sekali lagi, efek Disney adalah membuat segalanya menjadi hiperfantasi dan indah, tapi sesungguhnya membuat orang jadi tidak realistis. Memang hal yang indah jika film Disney menjadi memori masa kecil, namun di sisi lain ini juga secara tidak disadari menjadi alasan untuk menjustifikasi segala muatan film Disney yang rasis, membawa konstruksi negatif perempuan – walaupun di satu sisi menunjukkan superioritas Amerika- namun ternyata pada akhirnya mengacu pada fake democracy. Kemudian fake democracy ini menjadi false conciousness yang ironisnya ditanamkan pada anak-anak. Dan hal yang sama juga terjadi pada film Tinkerbell.

Alur dan penokohan Tinkerbell: Menuntun kita pada fake democracy dan hiperfantasi

Pada awal cerita diceritakan bahwa Tinkerbell berasal dari kuntum dandelion yang terhembus ke Neverland. Di Neverland inilah kuntum dandelion tersebut diberi serbuk peri hingga akhirnya berubah wujud menjadi seorang peri mungil yang cantik, yaitu Tinkerbell. Segera setelah tiba di ‘dunia nyata’ ia dihadapkan dengan berbagai macam pilihan spesifikasi ‘pekerjaan’ – tentu saja dengan cara magis- untuk mencari tahu bakat sejatinya. Akhirnya ia menemukan bahwa bakatnya adalah untuk menjadi tinker fairy – peri yang bertugas membetulkan dan membuat perkakas. Dan Tinkerbell ternyata memiliki bakat yang luar biasa dalam bidangnya, karena dalam ritual magis tersebut keluar cahaya “yang paling terang dan belum pernah dilihat sebelumnya” di Neverland. Karena itulah ia kemudian dinamai Tinkerbell. Dikisahkan bahwa setelah beberapa lama menjalani pekerjaannya Tinkerbell merasa bosan dan ingin mencoba bakat lain, karena sebagian besar peri lain memiliki spesifikasi pekerjaan sebagai peri empat musim: musim semi, gugur, dingin dan panas, namun ia sendiri adalah peri yang bertugas membuat perkakas untuk semua peri lainnya. Semua perbuatan Tinkerbell ini ternyata malah membawa bencana, apalagi setelah ia dikerjai oleh peri jahat Vidia [yang sepertinya merupakan representasi Timur Tengah dan dikonstruksikan sebagai teroris]. Di akhir cerita Tinkerbell memperbaiki semua kekacauan yang telah diciptakannya sehingga ia malah jadi pahlawan, dan berkat peri laki-laki Terence, ia menyadari bahwa bakat sesungguhnya adalah menjadi seorang tinker fairy. Dan sama seperti cerita Disney lain yang happy ending, yang jahat [peri Vidia] pun akhirnya mendapatkan hukuman, sementar Tinkerbell dan teman-temannya menikmati datangnya musim semi bersama-sama – dan mimpi Tink untuk pergi ke mainland pun terkabul. Ini adalah kekhasan cerita Disney, dan alur semacam ini memang menjadi format film pop pada umumnya [10] yang secara sederhana saya intisarikan demikian:

  1. Tokoh utama memasuki sebuah kelompok masyarakat dan ia belum begitu dikenal.
  2. Tokoh utama tersebut memiliki bakat khusus yang istimewa namun belum bisa diterima kelompok masyarakat.
  3. Ada cerita mengenai persahabatan dan konflik kepentingan – apapun bentuknya.
  4. Tokoh utama yang sedang mencari jati diri akhirnya menunjukkan bahwa ia menjadi istimewa dengan “menjadi dirinya sendiri”.
  5. Tokoh utama akhirnya menjadi pahlawan dan diterima masyarakat dan ada penekanan ini karena ia “menjadi dirinya sendiri”.

Format semacam ini bukan hanya digunakan dalam film pop dewasa namun juga film kartun seperti film Disney, yang juga artinya, format film Disney sesungguhnya sama dengan format film dewasa. Sehingga, bisa dikatakan bahwa ‘format klasik Disney’ sesungguhnya adalah format film yang tertuang dari realitas dewasa yang diperhalus dan dikemas sedemikian rupa untuk disajikan kepada anak-anak [11]. Format umum yang diuraikan diatas, dan notabene untuk orang dewasa tersebut kemudian direproduksi dan dikemas sedemikian rupa dengan cantik, untuk menarik perhatian anak-anak:

Jadilan dirimu sendiri -> temukanlah talentamu karena itulah jati dirimu sesungguhnya -> kamu akan jadi populer

Bisa dibaca bahwa pesan yang dibawa dari alur cerita Tinkerbell kurang lebih sama dengan film Disney lainnya, yaitu demokrasi, yang juga bisa dibaca sebagai superioritas Amerika. Dan inilah bagian ‘realitas dewasa’ yang disajikan Disney pada anak-anak dengan pengemasan yang cantik. Kita semua tahu bahwa Amerika selalu mengagung-agungkan demokrasi, bahwa semua orang bebas berpendapat dan menjadi dirinya sendiri, dan dengan demikian ‘mencapai titik puncak keberhasilan’ dalam hidupnya hingga akhirnya menikmati ‘kebahagiaan sejati’ dan karenanya, membawa bangsa Amerika sebagai bangsa yang superior. Ironisnya, ‘kebahagiaan’ semacam ini memang yang menjadi mimpi banyak orang [seperti halnya betapa banyaknya orang yang mengidolakan Amerika] sehingga ketika pesan ini dibawa dalam sebuah media – dalam hal ini film – mindset ini seringkali diterima mentah-mentah, tertanam dan akhirnya menjadi false conciousness dari sebuah fake democracy dalam benak kita. Fakta bahwa realitas buatan tersebut menjadi mimpi banyak orang sama sekali tidak bisa menjadi justifikasi bahwa ‘mimpi’ tersebut bisa dibawa ke realitas alam nyata. Orang dewasa mungkin bisa lebih cepat menyadarinya, namun lain ceritanya jika ini adalah film kartun yang ditonton anak-anak. Dengan anak-anak sebagai audience utama, artinya false conciousness tentang fake democracy sudah ditanamkan sedari dini dalam mindset anak-anak dan yang nantinya dibawa hingga dewasa. Banyak unsur yang bisa dikritisi untuk membuktikan bahwa banyak unsur seperti rasisme, konstruksi negatif perempuan dan kritik lainnya yang bisa diriset dalam film Disney, untuk membuktikan bahwa film Disney adalah sebuah box yang sarat muatan negatif dan dipackage dengan manis. Dan Tinkerbell juga tidak jauh berbeda.

Ketika saya pertama kali menonton Tinkerbell, saya tidak habis pikir kenapa Tinkerbell sebagai tokoh utama di-dubbing oleh Mae Whitman yang logatnya sangat Amerika sementara film ini settingnya di London. Selain itu tidak banyak tokoh minor dalam film ini yang logat British-nya kental, kecuali dua tokoh teman Tinkerbell, Bobble [Rob Paulsen] dan Clank [Jeff Benett] yang notabene adalah tokoh geeks dalam cerita ini. Selain dua tokoh ini, tokoh lain yang masih memiliki logat British adalah Fairy Mary. Selain itu tokoh Clank dan Bobble digambarkan sebagai tokoh yang eksentrik, seringkali bertindak bodoh dan membuat kekacauan sehingga dianggap aneh dan agak dijauhi teman-temannya. Bisa dilihat bahwa dari uraian tersebut terdapat nilai superioritas Amerika atas Inggris dan negara lainnya yang akan diperjelas dengan beberapa poin dibawah ini:

– Walaupun setting Tinkerbell di Inggris namun tetap saja: Pertama, pahlawannya adalah orang Amerika-bukan hanya dari segi dubbernya, tapi secara fisik figur Tinkerbell juga sangat Amerika-hal ini nanti akan kita bahas lebih lanjut. Kedua, Clank dan Bobble [yang diasosiasikan sebagai orang lokal Neverland-dengan kata lain, Inggris] hanya tokoh pendukung – orang aneh yang bersikap baik sehingga menjadi teman tokoh utama sejak awal cerita saat tokoh utama belum memiliki banyak teman. Dan menurut saya aneh mengapa yang lebih disoroti adalah bagaimana Tinkerbell akhirnya menerima berteman dengan Clank dan Bobble yang aneh, dan bukan sebaliknya Clank dan Bobble – lah yang pertama kali menjadi teman, menerima dan membantu Tinkerbell ketika ia baru pertama kali datang ke desa tinker fairy. [Ini tentu saja bertolak belakang dengan format klasik Disney yang katanya mengusung persahabatan sejati]. Ketiga, asosiasi semacam ini bisa diartikan bahwa selain berusaha menggambarkan superioritas Amerika, film Tinkerbell juga menunjukkan adanya sentimen terhadap Inggris. Dan sentimen terhadap Inggris dalam film Amerika – bahkan dalam kartun anak – memang sudah cukup sering ditemukan-bukan hanya dalam kartun produksi Disney.

– Sentimen terhadap Inggris juga ditunjukkan dalam scene ketika Tinkerbell menemukan koin [mirip dengan koin poundsterling] di dekat pantai. Tinkerbell mengamati wajah wanita gendut dan buruk rupa dalam koin tersebut [yang dalam koin poundsterling asli seharusnya menampilkan wajah Queen Elisabeth II] dan menirukan mimik wajah angkuh dalam koin tersebut kemudian tertawa.

– Sentimen terhadap Rusia dan Timur Tengah juga ditampilkan disini, karena dari semua jenis peri yang ada di Neverland, hanya dua jenis peri yang tidak berteman dengan Tinkerbell: peri es [yang merepresentasikan Rusia – Rusia sendiri seringkali diasosiasikan sebagai negeri es] dan peri angin Vidia [yang dilambangkan dengan gulungan angin berpasir – yang dalam cerita sebenarnya adalah angin yang mengandung serbuk bunga – seolah merepresentasikan Timur Tengah dan dalam cerita ini memiliki peran antagonis sebagai ‘teroris’]. Secara historis hal ini juga bisa ditelusuri, sentimen Amerika terhadap Rusia berawal dari perang dingin sementara sentimen terhadap Timur Tengah memanas semenjak disabotasenya pesawat yang kemudian menabrak dan meruntuhkan Pentagon.

Sementara itu sentimen Amerika terhadap Inggris juga  bisa ditelusuri secara historis. Dalam sejarah, Amerika menggunakan popular culture sebagai alat kekuasaan, perpanjangan tangan untuk mencapai power settlement, setelah berakhirnya perang dingin melawan Rusia [12]. Usaha ini dilakukan dengan banyak hal, salah satunya dengan imperalisme elektronik, riset penemuan internet, dsb. Artinya, popular culture adalah tool yang sangat penting bagi Amerika. Namun ternyata yang dipercaya sebagai pemilik popular culture secara historis adalah Inggris [13]. Hal ini terkait dengan penggunaan bahasa Inggris – yang secara original berasal dari Inggris dan masuk ke Amerika – yang sekarang ini menjadi bahasa global, dan dengan kata lain, menjadi bahasa pop yang menjadi bagian paling mendasar dari pop culture itu sendiri. Selain itu, kenyataan bahwa Inggris-lah yang memulai revolusi industri- tonggak utama penyebaran pop culture mungkin memang sulit untuk diterima Amerika. Maka kemudian masuk diakal jika Amerika memiliki sentimen tertentu pada Inggris dalam hal pop culture.

Satu hal lagi yang perlu dicatat, pengidentikan Amerika sangat khas pada tokoh Tinkerbell, sementara Tinkerbell sendiri diposisikan sebagai tokoh utama – di titik sentral – yang memiliki peran penting untuk mengakomodasi seluruh kepentingan peri-peri lain. Hal ini cocok dengan fakta bahwa Amerika adalah negara yang memposisikan diri sebagai ‘pahlawan’ yang siap membantu negara-negara lain yang kesulitan. Kemudian pengidentikan ini diperjelas dengan pembentukan image teman-teman perempuan Tinkerbell: Iridessa [Raven Symone], Fawn [America Ferrera], Silvermist [Lucy Liu], dan Rosetta [Christin Chenoweth] yang secara keseluruhan multiras. Misalnya Silvermist seolah merepresentasikan Cina, Iridessa – Afrika, Fawn – Scotlandia, dan Rosetta yang berambut merah kemungkinan merepresentasikan Jerman.

Positioning semacam ini memiliki peran ganda. Di satu sisi ini mengilustrasikan peran penting Tinkerbell [yang diposisikan sebagai Amerika] sebagai negara core, dan betapa Neverland mungkin takkan berdaya tanpa Tinkerbell – yang juga bisa dibaca “dunia mungkin takkan bisa apa-apa tanpa Amerika.” Namun di sisi lain positioning semacam ini juga seolah berusaha menegaskan nilai demokrasi Amerika, yaitu bahwa Amerika adalah negara yang pluralis, yaitu dengan menghadirkan tokoh-tokoh dari berbagai ras, dari Asia [Cina], Afrika, termasuk beberapa negara Eropa. Maka dari pembicaraan mengenai alur dan penokohan Tinkerbell kita bisa melihat bagaimana pemetaan dan pembentukan false conciusness yang di sisi lain justru mengagungkan demokrasi dan superioritas Amerika, sehingga proses false conciousness ini menjadi terselubung. Bayangkan, jika bahkan orang dewasa sulit untuk menyadarinya, apalagi anak-anak? Maka dengan mulus proses false conciusness ini masuk ke dalam benak anak-anak yang masih polos dan tertanam hingga dewasa.

Live Figure Tinkerbell = Marilyn Monroe atau Margaret Kerry? Disguised scopophilia ganda

Ada satu nilai yang entah disengaja atau tidak terbawa dalam proses penanaman false conciousness dari fake democracy Amerika dalam film Tinkerbell, yaitu masalah konstruksi negatif perempuan. Secara resmi, yang diakui Disney sebagai live figure Tinkerbell adalah Margaret Kerry, aktris, sekaligus penyanyi dan penari yang memerankan Tinkerbell karena memenangkan audisi dan setelahnya menghabiskan enam bulan untuk melakukan gerakan-gerakan pantomim yang kemudian dianimasikan sebagai Tinkerbell [14]. Tapi saya merasa agak ganjil ketika saya membuka official site Disney untuk mencari keterangan mengenai karakter Tinkerbell dan menemukan pernyataan di page tersebut [15]: “Animator Marc Davis’ personification of her as a winged pixie with a very womanly figure was widely criticized as too sexually suggestive by Barrie purists, especially after it was rumored that she was modeled after actress Marilyn Monroe. Tink was actually modeled after Margaret Kerry, the actress who performed her live-action reference.”

Jika memang Disney sungguh ingin menghapuskan rumor bahwa live figure Tinkerbell adalah Marilyn Monroe, mengapa rumor tersebut justru disebutkan secara begitu gamblang dalam official site-nya? Diluar benar tidaknya rumor ini, Disney seolah memanfaatkan ketenaran Marilyn Monroe untuk mempopulerkan tokoh Tinkerbell, dan ketika hal ini beresiko mendapat kritikan tajam, Disney dengan cerdik tinggal mengelak, “Kami telah menjelaskan bahwa itu hanya rumor. Live figure Tink adalah Margaret Kerry.” Karena bagaimanapun jelas, popularitas Margaret Kerry tidaklah sebombastis Marilyn Monroe yang merupakan icon seks Amerika, yang identik dengan rambut pirang, bibir seksi berlipstik merah dan gaun putih. Sekali lagi, ini bisa dikatakan merupakan strategi pemasaran yang cerdik dari Disney. Di satu sisi ia memanfaatkan nama Marilyn Monroe yang influental, namun di sisi lain ketika hal ini menjadi masalah ia kemudian tinggal berkelit bahwa live figure Tinkerbell adalah Margaret Kerry. Apakah Margaret Kerry hanya diatasnamakan saja dan sesungguhnya Tinkerbell dibuat berdasarkan figur Marilyn Monroe, benar atau tidaknya mungkin hanya teamwork Disney bersangkutan yang tahu. Tapi bagaimanapun saya masih berpendapat Tinkerbell lebih mewakili sosok Marilyn Monroe daripada Margaret Kerry, karena baik Tinkerbell maupun Marilyn Monroe identik dengan rambut pirang, lekuk tubuh yang aduhai dan gaun berpotongan minim – selain itu gurat wajah Tinkerbell pun lebih menyerupai Marilyn Monroe. Saya tidak yakin apakah Disney akan benar-benar menciptakan sebuah tokoh dari tokoh yang tidak begitu terkenal seperti Margaret Kerry. Di sisi lain hal ini cukup masuk akal ketika kita melihat fakta bahwa Margaret Kerry berkesempatan memerankan keseluruhan gerakan Tinkerbell setelah audisi, sementara saya juga tidak yakin saat audisi ini diadakan Disney tidak memiliki gambaran atau setidaknya konstruksi mentah atas Tinkerbell. Karena tidak masuk akal bagi saya jika Disney mengadakan audisi tanpa menetapkan kategori-kategori karakter sebuah tokoh yang akan difilmkannya. Bisa saja yang terjadi adalah, tokoh Tinkerbell memang dianimasikan dari gerakan-gerakan pantomim yang dilakukan Margaret Kerry, namun sesungguhnya Tinkerbell diciptakan berdasarkan figur Marilyn Monroe.  Ada satu hal yang penting untuk dicatat, yaitu bahwa siapapun live figure Tinkerbell, pengidentifikasian artis perempuan tersebut dengan Tinkerbell berarti figur Tinkerbell yang digambarkan sebagai anak-anak pada kenyataannya adalah figur orang dewasa yang ‘dipalsukan’ dalam figur anak-anak.

Fakta ini tidak bisa diabaikan begitu saja, terutama jika dikaitkan dengan bahasan sebelumnya mengenai fake democracy dalam false conciousness. Karena baik Marilyn Monroe maupun Margaret Kerry adalah artis yang sangat Amerika [karena memiliki kekhasan baik secara fisik maupun ciri lainnya sebagai orang Amerika. Selain itu keduanya juga merupakan artis Hollywood yang jelas akan diasosiasikan dengan Amerika]. Maka jika Margaret Kerry atau Marilyn Monroe difigurkan menjadi kartun otomatis karakter kartun tersebut pasti juga membawa ‘ideologi Amerika’. Yang artinya, figur Tinkerbell adalah lambang superioritas Amerika yang diperhalus dan disisipkan dalam kisah yang membawa orang pada mimpi indah.

Laura Mulvey menjelaskan dalam teorinya bahwa film populer memproduksi dua bentuk kepuasan visual yang kontradiktif : Pertama, mengenai scopophilia. Kedua, mengenai propaganda narsisme [16]. Dalam kasus Tinkerbell, scopophilia terjadi secara berganda dan terselubung. Mulvey mengatakan pada umumnya perempuan dieksploitasi dua kali, yaitu di depan kamera dan kemudian di depan audience. Katakanlah live figure Tinkerbell adalah Marilyn Monroe. Jika Disney mencari orang yang bisa menggambarkan dengan tepat karakter yang diinginkannya, maka ia akan melakukan talent search, siapakah perempuan yang tepat. Sebelum akhirnya terpilih dalam proses talent search itu Marilyn Monroe telah melalui proses panjang dengan dieksploitasi di depan kamera dan kemudian di depan audience, sehingga akhirnya ia memiliki ketenaran dan gelar icon seks Amerika. Dan gelarnya inilah yang mungkin kemudian membuat ia terpilih menjadi live figure Tinkerbell, sekaligus sebagai perempuan yang dianggap ‘sangat Amerika’.  Setelah itu tubuh Marilyn Monroe kembali dieksploitasi dengan diobservasi sedemikian rupa dengan teliti – kaitannya dengan proses pembentukan dan pembuatan karakter Tinkerbell. Hal yang sama berlaku pada Margaret Kerry – jika ia diposisikan sebagai live figure Tinkerbell – karena ia malah bukan hanya diamati tubuhnya dan difigurkan menjadi karakter kartun, namun ia juga diharuskan melakukan berbagai macam gerakan yang akhirnya dianimasikan sebagai Tinkerbell. Proses ini tidak berhenti sampai di sini, karena setelah proses pembuatan film Tinkerbell selesai, baik Monroe ataupun Kerry – yang direpresentasikan karakter Tinkerbell – kemudian kembali dieksploitasi setiap kali film Tinkerbell ditonton oleh sekian pasang mata. Dan sekali lagi, proses scopophilia ganda ini terselubung, karena dalam kasus film Tinkerbell, bagi audience bukan Margaret Kerry atau Marilyn Monroe yang berada langsung di depan lensa kamera, melainkan gambar Tinkerbell yang dibuat dalam bentuk animasi komputer.

Efek scopophilia ganda mungkin terdengar tidak begitu berpengaruh pada audience, namun efek  ini sebetulnya bahkan sudah terjadi ketika anak-anak perempuan tersebut menyukai figur Tinkerbell yang cantik dan seksi – dengan konstruksi negatif perempuan dibaliknya kaitannya dengan pendefinisian kata ‘cantik’ itu sendiri  – karena hal ini berarti ada erotisme terselubung yang telah ‘dinikmati’ oleh anak-anak perempuan tersebut pada karakter Tinkerbell – dan ironisnya alasan ini pula lah yang membuat mereka mengagumi Tinkerbell. Dan dengan alasan yang sama ini, kemudian di masa yang akan datang alasan tersebut menjadi bagian penting dalam mindset mereka untuk mengkonstruksikan kata ‘cantik’. Dan jika sudah terjadi demikian, maka kata ‘cantik’ tersebut kemungkinan besar akan mengacu pada definisi cantik ala Amerika – dan hal ini sekaligus membawa anak-anak pada pandangan superioritas Amerika.

Kemudian, faktor kedua kepuasan visual Laura Mulvey yang diproduksi film populer juga perlu diperhatikan, yaitu mengenai efek narsisme. Kontradiksi faktor narsisme dengan faktor scopophilia terletak pada penjelasan yang dilakukan dengan pendekatan psikoanalisis Freud. Kepuasan laki-laki yang digambarkan scopophilia sebagai proses ‘menikmati objek yang erotis’ [yaitu perempuan] dalam hal ini ternyata juga secara semiotika dilakukan oleh perempuan ketika ada efek narsisme dimana perempuan menikmati saat-saat ia dieksploitasi sebagai perasaan ‘dominasi seksual’. Efek narsisme dalam proses tidak langsung juga bisa diilustrasikan dalam kasus ini ketika anak-anak perempuan yang menonton Tinkerbell mengalami hiperfantasi dan mengidentifikasi dirinya sebagai tokoh utama yang sesungguhnya dikonstruksikan sedemikian rupa sebagai perempuan dewasa yang dipalsukan dalam wujud anak-anak – dengan kata lain, perempuan yang cantik dan seksi ala Amerika. Artinya, dengan demikian anak-anak telah terkena ‘efek narsisme’ karena menikmati proses identifikasi sebagai tokoh yang sesungguhnya membawa kontradiksi dan eksploitasi perempuan – dengan kata lain, secara tidak langsung mereka menikmati untuk ‘dieksploitasi’. Dan proses mengagumi identifikasi perempuan yang ‘cantik dan seksi ala Amerika’ ini sekaligus mengembalikan audience pada proses false conciousness mengenai superioritas Amerika yang turut serta membawa konstruksi negatif perempuan – termasuk efek narsisme – dalam benak anak-anak. Dan ironisnya lagi, audience film Tinkerbell adalah anak-anak perempuan.

Bagaimanapun juga, sesuai dengan penjelasan Stuart Hall mengenai pandangan konstruktivisnya tentang media,  apapun realitas yang telah dianalisis dalam film Tinkerbell, terutama yang berkaitan dengan gender – dan yang juga berkaitan dengan konstruksi ideologi Amerika – bukan merupakan refleksi definisi gender secara simbolik, namun secara semiotik merupakan konstruksi penanda kultural [17]. Namun seperti apapun realitas buatan yang dihadirkan media, tidak ada seorang pun yang mampu mengendalikannya. Karena sesuai pendapat Marx, media sebagai penyampai pesan-lah yang memiliki kuasa untuk mengontrol dan mensirkulasi ide audience-nya [18]. Kita sebagai audience hanya bisa bersikap kritis, dan benar adanya pendapat Margareta Ronnberg [19], parental guide sangat penting, terutama dari segi media yang dikonsumsi anak-anak.

REFERENCE

[1] Nikhilesh Dholakia and Jonathan Schroeder. Disney: Delights and Doubts. 2001. Journal of Research for Consumers.

[2] Margareta Ronnberg. Why is Disney So Popular? The Animated Feature Films From a Childish Perspective. 2002. Filmforlaget, Uppsala : Sweden.

[3] James Potter. Media Literacy, 2nd edition. 2001. Sage Publications: London. P: 113-117.

[4] Margareta Ronnberg. Why is Disney So Popular? The Animated Feature Films From a Childish Perspective. 2002. Filmforlaget, Uppsala : Sweden. P: 8

[5] John Storey. An Introductionary Guide to Cultural Theory and Popular Culture. 1993.Harvester Wheatsheaf: England. P: 33-41.

[6] http://corporate.disney.go.com/corporate/complete_history_1.html, diakses 28/11/08

[7] John Storey. An Introductionary Guide to Cultural Theory and Popular Culture. 1993.Harvester Wheatsheaf: England. P: 33-34.

[8] http://corporate.disney.go.com/corporate/complete_history_1.html, diakses 28/11/08

[9] Margareta Ronnberg. Why is Disney So Popular? The Animated Feature Films From a Childish Perspective. 2002. Filmforlaget, Uppsala : Sweden. P: 11-16.

[10] John Storey. Cultural Studies and The Study of Popular Culture: Theories and Methods. 1996. The University of Georgia Press: Athens.

[13] John Storey. An Introductionary Guide to Cultural Theory and Popular Culture. 1993. Harvester Wheatsheaf: England. P: 16-17.

[14] http://en.wikipedia.org/wiki/Margaret_Kerry , diakses 28/11/08

[15] http://disney.go.com/vault/archives/characters/tinker/tinker.html , diakses 28/11/08

[16] John Storey. An Introductionary Guide to Cultural Theory and Popular Culture. 1993.Harvester Wheatsheaf: England. P: 130-131.

[17] Stuart Hall. Representation Cultural Representation and Signifying Process. 1997. Sage Publications: London. P: 346

[18] Stuart Hall. Representation Cultural Representation and Signifying Process. 1997. Sage Publications: London. P: 347

[19] Margareta Ronnberg. Why is Disney So Popular? The Animated Feature Films From a Childish Perspective. 2002. Filmforlaget, Uppsala : Sweden. P: 7-11.

Advertisements

6 thoughts on “Superioritas Amerika dan Konstruksi Negatif Perempuan dalam Film Tinkerbell: a False Conciousness Process

  1. Judith Chen says:

    terima kasih 🙂 saya sendiri sedang menyempurnakan tulisan ini karena sedang saya tulis ulang sebagai skripsi. jika sudah selesai pasti saya post disini..^^

  2. Renz says:

    Mbak aq kasih saran klo buat tulisan yang terlalu panjang seperti page ini tolong diberi gambar dikit misal ada potongan gambar tinkerbell dll. Good Luck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s