The False Conceptualizing of the word “Chaos” And Why University Textbook is Boring

(judul sok keren padahal cuma mau curhat soal skripsi)

Entah kenapa belakangan ini kata ‘chaos’ banyak sekali bermunculan di media, baik cetak maupun elektronik. Sepengamatan saya, kata-kata ini selalu dihubungkan dan disamaratakan denga huru-hara, keributan, kekacauan dan saudara-saudara sebangsanya. Mungkin karena belakangan ini banyak sekali terjadi bencana di Indonesia, terutama pesawat jatuh, demonstrasi, banjir bahkan perceraian artis-artis (kalau itu mungkin bisa dihitung sebagai bencana) yang tahun ini datangnya bergiliran seperti tugas piket. Apa iya sekarang ini ada trend baru yaitu pengkerdilan makna kata? Karena terkadang jujur saja pemakaian kata ‘chaos’ ini terlalu ngasal dan kesannya hanya digunakan sebagai penghias kalimat agar penulisnya kelihatan pintar (padahal menurut saya justru ketauan payahnya).
Jika memang ini menjadi sebuah trend maka satu-satunya trend yang harus dihilangkan (paling nggak dikurangin deh) disini adalah trend latahnya orang Indonesia. Satu orang rambutnya keriting, sebulan kemudian satu kampung rambutnya sudah keriting semua. Satu program TV sukses, lainnya ikut-ikutan bikin juga dengan alasan ‘terinspirasi’ (ngaku kalo njiplak aja susah, udah njiplak aja masih bangga). Satu orang pake blackberry, mendadak dari pelajar, pengusaha, sampe tukang sapu di pasar pake blackberry (padahal ya mungkin ngga tau makenya gimana. Apa bagusnya sih blackberry. Ah, yang penting kan gaya, mau otak melompong juga bodo amat, kan begitu mottonya orang zaman sekarang? Halah, paling blackberrynya cuma dipake buat maen facebook sama nggosip…). Satu orang rambutnya lurus dan panjang, yang tadinya keriting cepak mendadak rambutnya ikutan lurus panjang dan kaku kayak ijuk karena rambutnya dipaksa jadi lurus. Mungkin juga extensionnya memang pake ijuk karena nggak punya duit. Satu punya band ngetop dikit mendadak semua orang pengen ngeband, kayak kerjaan yang laen nggak bakal laku aja. Begitulah, wabah sepanjang zaman di Indonesia: latah bin njiplak…
Mau nggak mau kita harus mengakui, kaum muda yang berminat di bidang akademis makin sedikit karena mungkin kesannya ‘nggak gaya’. Ya kayak saya ini lah, nggak gaya. Nggak ding, saya belum kerja, baru pengin kerja disitu. Berhubung sekarang pada pengennya ngeband sama main sinetron jadi saya comot yang lain saja, nulis artikel atau sejenisnya^^. Justru itulah, kebiasaan memperhatikan ‘gaya’ itu tadi maka isi otak jadi mungkin kurang diperhatikan, mungkin lebih tepatnya kurang nutrisi pengetahuan (saya nggak bilang semua artis bodo sih). Meskipun orang juga sering sembarangan menilai anak nakal dan tukang bolos seperti saya itu bodo. Saya nggak bodo sih, cuma hobi bolos dan tidur di kelas….
Sebelum saya tambah ngelantur, saya mau kembali ke deskripsi kata chaos tadi. Emang chaos itu apa sih? Kalau menurut saya, sesuai teori choas and order sebetulnya kata chaos itu sama sekali tidak bisa begitu saja disetarakan dengan kata kacau. Sederhananya, teori chaos and order bicara mengenai chaos sebagai sesuatu yang datang pada sistem dan ketahanan yang teratur, untuk merombak sistem yang sudah terlalu reguler dan teratur tersebut. Bagaimanapun kita harus kembali pada sistem alam yang memang tidak akan pernah mengizinkan sebuah sistem yang teratur eksis terlalu lama, karena dunia itu pada dasarnya dinamis, selalu berubah dan dengan segera sistem yang teratur tersebut harus dikacaukan untuk mereproduksi sistem yang beradaptasi dengan chaos untuk memiliki keteraturan dan imunitas yang baru terhadap gangguan luar. Dan bagi yang tidak bisa bertahan terhadap chaos yang datang tadi tentulah akan lenyap dengan sendirinya. (Masih nggak ngerti? Cari di wikipedia aja ya).
Suka atau tidak, begitulah sistem kerja alam. Sama ketika orang yang terlalu konserfatif akan kepentok melihat perubahan dunia yang begitu drastis, sementara orang yang terlalu ikut arus perubahan tanpa punya prinsip tegas juga kemungkinan besar akan mati tenggelam. Kembali ke definisi chaos, maka ditinjau dari acuan teori chaos and order tersebut, kata chaos secara semiotik memiliki pemaknaan yang mendalam. Dan meski seringkali dan tidak salah digunakan sebagai padan kata ‘kekacauan’ namun tentu saja konteks penggunaannya harus diperhatikan. Dan konteks tentu mencakup konteks konotasi kata itu sendiri dan konteks kalimat secara keseluruhan. Setiap kata pun pada dasarnya secara semiotik memiliki pemaknaannya sendiri, dan dengan demikian tidak bisa asal digunakan sebagai atribut untuk membuat penulisnya kelihatan pintar. Saya kira budaya instan yang sudah mulai mendaging sekarang ini membuat mindset manusia secara tidak langsung bekerja mencari cara untuk aktualisasi diri secara instan tanpa banyak effort, dan salah satu output yang paling sederhana dan mudah dilakukan adalah penggunaan kosakata yang ‘wah’. Perlu diperhatikan bahwa kinerja mindset alam bawah sadar kita terutama bekerja atas kekuatan pikiran kita sendiri. Dengan kata lain kalau kita ingin sekali kelihatan keren dengan cepat dan tanpa banyak berusaha maka tanpa sadar lama-lama kita bisa banyak menghapalkan kosakata sulit tanpa sadar hanya agar kelihatan hebat dan pintar (dalam tarafan lebih parah, bisa jadi berbohong). Bingung? Baca Psikoanalisis Freud atau textbook dasar Psikologi. Nggak susah kok, asal otak kita tidak terburu-buru bilang “males”. Dan percaya atau tidak, buku-buku semacam ini penting dibaca untuk penguasaan mindset kita sendiri, dan sebagai bekal yang membantu pemahaman hal-hal lain yang bahkan kelihatannya sama sekali tidak berhubungan dengan psikologi. Bagi saya, segala ilmu pada dasarnya berhubungan, mau itu jaraknya jauh atau dekat, itu tergantung bagaimana kita memetakan itu semua didalam pikiran kita untuk membangun mindset.
Bicara soal mindset, buku teks juga merupakan sumber ilmu yang penting bagi saya untuk membangun pemahaman lebih terhadap dunia. Dan entah kenapa orang-orang zaman dahulu memiliki pemahaman yang kelihatan jauh lebih inspiring bagi saya, misalnya seperti Plato. Saya orang yang dari kecil sangat suka buku, sekalipun itu buku teks atau filsafat, tapi bagi saya ada beberapa textbook yang bikin saya ingin melempar buku itu karena sebel. Saya pribadi biasanya menyukai textbook tapi beberapa textbook sangat membosankan bagi saya terutama karena pengulangan isi yang berlebihan. Bikin eneg. Salah satunya adalah bukunya Douglas Kellner dan Jane Stokes yang sialnya wajib saya baca karena merupakan buku yang direkomendasikan dosen pembimbing saya untuk skripsi. Setelah berminggu-minggu saya baru selesai membaca separuhnya dan saya tetep nggak mudeng si bule satu ini sebetulnya mau ngomong apa. Dari awal sampai di halaman yang saya beri pembatas buku kok kayaknya diulang-ulang terus. Jadi saya tambah nggak ngerti, sebetulnya dia ini mau ngomong apa sih?? Yang saya tangkap hanya bahwa istilah media culure lebih tepat digunakan daripada popular culture (yang dijelaskan dengan sangat lugas oleh John Storey). Udah, ya cuma itu thok. Atau mungkin saya aja kali ya yang mendadak bego. Bener deh, buku yang lebih sulit seperti Michel Foucoult dan John Storey saja saya nikmati, tapi saya betul-betul tidak suka bukunya Douglas Kellner yang media culture.
Saya nggak mengerti tapi beberapa textbook memiliki permasalahan yang sama sehingga sangat membosankan dan melelahkan untuk dibaca. Dan setelah capek-capek membaca pun, kita mungkin dongkol karena bertanya-tanya sendiri: sebetulnya inti dari isi buku ini apa sih!? Cape deh…dan kalau sudah begitu, mindset kita lama-lama akan terbentuk jadi alergi dan malas membaca textbook lain, sekalipun mungkin tidak membosankan tapi kita sudah malas duluan. Sudah apriori dulu, bahasa kerennya. Mungkin maksud dari si penulis adalah memberi pengantar dari sebuah bab yang merupakan penjelasan lanjutan dari bab sebelumnya, tapi kita sering menemui penjelasan yang seharusnya menjadi pengantar tersebut berlebihan alias kepanjangan. Selain itu repetisi semacam ini ditemukan juga di bab-bab lain dalam buku yang sama. Lah yang baca ya sebel…
Apa daya, mau tidak mau ya bukunya harus dibaca, kalau nggak ya skripsinya nggak akan pernah selesai. Semalas apapun, walaupun hanya menulis beberapa kalimat dalam sehari pun, saya lakukan. Kalau sudah begini, saya jadi wondering around, apa iya ini penyebab teman-teman saya sesama mahasiswa malas baca textbook? Atau mereka memang alergi sama textbook? Well tapi kalau textbook jadi membosankan karena faktor repetisi penulisan memang berarti ada satu faktor yang ketahuan dan memang perlu ditinjau ulang. Mungkin anda berpendapat saya kebanyakan mikir hal yang nggak penting dan apa gunanya meninjau ulang textbook itu kalau yang nulis udah uzur dan mungkin malah udah game over, apa iya mereka mau repot-repot mengubah textbooknya?
Ya nggak juga sih. Saya tidak berpikiran untuk mengubah textbook yang ada, tapi untuk textbook yang akan digunakan di masa yang akan datang. Ilmu terus berkembang, dan kita perlu generasi yang baru untuk menuangkan ide terutama akan fenomena yang ada sekarang ini. Teori dan buku-buku lama tetap perlu dibaca, tentu saja, untuk membangun pondasi pemahaman mindset yang kuat akan ilmu bersangkutan. Tapi yaaah…kalau melihat anak muda sekarang sukanya ngeband, jadi model, artis dan tetek bengek sebangsanya….wah saya jadi sangsi. Mindset manusia terus berkembang ke pemahaman lebih kompleks tentang alam semesta dan ilmu sosial, atau setidaknya idealnya begitu. Lah tapi kalo generasinya sekarang generasi dunia hiburan semua begini, waduh gimana dong ya…
Saya sendiri bertanya-tanya mengapa kebanyakan buku teks ditulis oleh mereka yang sudah uzur, dan sebagian besar bukunya juga sudah bulukan karena terlalu lama disimpan (maklum saya banyak pinjam dari perpustakaan). Emangnya yang muda tidak ada yang mampu menulis textbook? Dan apa iya berarti gila buku (terutama buku teks) itu nggak keren? Ah, nggak juga. Mungkin saya kedengaran narsis tapi saya menikmati menjadi diri saya sendiri. Saya suka mengikuti mode, memakai mini dress dan hotpants ke mall, shopping, karaoke, dance, bahkan clubbing. Tapi saya tetap cinta filsafat dan psikologi (terutama psikologi klinis), walaupun saya mahasiswa komunikasi. Aneh? Memangnya kenapa? Menurut saya justru keren kalau kita bisa berpenampilan menarik tapi otak juga terasah. Nggak cuma casing luarnya yang kinclong tapi dalamnya keropos.
Orang sering menganggap saya remeh karena saya perempuan yang badannya kecil, sering dikira masih SMA padahal sudah skripsi, suka fashion dan mall, dan hal-hal sejenisnya yang membuat orang seringkali menilai saya sembarangan. Punya prestasi pun, dianggap karena papa saya pejabat di fakultas sebelah. So what? Saya memang jengkel pada awalnya tapi ya sekarang tidak mau ambil pusing. Saya sendiri yang rugi nanti. Kalau saya jadi down, bukannya saya malah mewujudkan omongan-omongan sembarangan mereka? Mau orang menilai saya bego karena penampilan saya, saya toh sudah menghasilkan tulisan yang dipuji dosen-dosen saya, termasuk dosen saya yang jadi calon menteri di Taiwan. Mau orang bilang saya dikirim ke Taiwan karena papa saya pejabat kampus, mereka toh tidak bisa mengubah kalau kenyataanya itu semua hasil usaha saya sendiri karena saya ditunjuk ikut seleksi dan akhirnya terpilih. Mau orang bilang saya aneh karena sering baca jurnal dan textbook yang mungkin agak tidak wajar bagi mereka, ya biar saja kalau saya merasa itu semua penting bagi saya. Dan yang terpenting, saya menikmati semua itu. Orang mau bilang apa, peduli setan. Saya toh punya cita-cita yang sederhana namun jelas sama sekali tidak mudah diraih, yaitu menulis buku teks atau jurnal yang nantinya dipakai sebagai referensi kuliah di universitas-universitas ternama. Dan saya rasa orang muda memang sudah waktunya menempatkan nama dan karyanya di perpustakaan universitas-universitas besar yang berdebu itu, terutama kaum perempuan.
Saya memang sekarang ini belum jadi apa-apa, dan jelas masih banyak kendala yang ada di depan saya untuk mencapai itu semua. Banyak hal yang ingin saya raih, dan bahkan untuk sebuah hubungan yang sedang saya rangkai sekarang pun tidak ada yang mudah tapi tidak sulit juga kalau ada niat dan mau berusaha. Karena ketika saya membaca saya seringkali menemui bahwa orang seringkali menyerah di saat hampir berhasil. Tapi saya percaya mereka yang tidak menyerah itulah yang pada akhirnya berhasil. Naskah JK Rowling, penulis Harry Potter, ditolak 26 kali, dan salah satu alasannya hanya karena dia wanita. Colonel Sanders penemu KFC resepnya ditolak lebih dari seribu kali. Dan masih banyak kisah lainnya. Mungkin anda akan menjadi salah satu dari mereka, jika anda percaya pada diri anda sendiri dan terus berusaha. Jika anda sendiri tidak yakin pada diri anda sendiri, bagaimana anda akan meyakinkan orang lain kalau anda mampu?
Either way we only got one ticket to see the show called life, whether we want to watch the flow till the end, or go home during the bad jokes, get amused, sad or angry, it’s all our own choice. It’s you to make the decision for what you’ve got. Or is there anyone wants to say, “ I want my money back?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s